Selasa, 17 Mei 2016

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR AGRONOMI Mencangkok Tanaman Kakao, Puring Mini, dan Jambu Biji



LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR AGRONOMI
Mencangkok Tanaman Kakao, Puring Mini, dan Jambu Biji
Dosen Ir. Edyson Indawan, MP
SEMESTER GANJIL 2015/2016














KELOMPOK 3 (Tiga)

NURUL SHOLEHUDDIN                 2014330069
MUMHAMMAD RODLI                   2014330064
KHAIRUDDIN                                   2014330034
KUNI MALYATAN MUKMINAH   2014330048
MEKAEL ROBERTOS MALO         2014330061
MELFINSINSIUS H PATI                 2014330060
PAULUS                                             2014330059
MUNAWIR GHAZALI                     2014330065
PRIMUS ADRIANUS LEDA                         2014330075
OKTAVIANUS DONA                      2014330071
MATEUS LERE RANGGA               2014330049
LAZARUS BOLIKOLIN                   2014330075

PRODI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG - JAWA TIMUR
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari tanaman melakukan beberapa aktivitas yang berguna dalam rangka mempertahankan hidup, seperti bernapas, berfotosintesis, respirasi, dan berkembang biak. Awal perkembangbiakan umumnya ditandai dengan perkecambahan. Dan tentunya di dalamnya terdapat struktur yang cukup rumit. Perkembangbiakan pada setiap tanaman tidaklah sama. Ada beberapa spesies tanaman yang berkembangbiak dengan cara generatif dan ada juga yang berkembangbiak dengan cara vegetatif.
Berbagai jenis tanaman sama sama berkembang biak , tapi tanaman berkembang biak dengan cara yang berbeda beda. Perbanyakan tanaman juga memiliki beberapa jenis cara, diantaranya adalah perbanyakan segara genetatif maupun vegetatif.
Mencangkok adalah suatu cara mengembangbiakkan tumbuhan dengan jalan menguliti batang yang ada lalu bungkus dengan tanah agar akarnya tumbuh. Jika akar sudah muncul akar yang kokoh, maka batang tersebut sudah bisa dipotong dan ditanam di tempat lain, mencangkok juga dapat diartikan suatu perbanyakan vegetatif secara buatan tanpa baikan dengan menggunakan bagian dari tanaman.
Perkembangbiakan baik secara vegetatif sebagian besar berasal dari salah satu bagian tanaman, misalnyaberasal dari batang, akar, daun, dan lain-lain, atau bisa juga disebut bibit. Sedangkan perkembangbiakan secara generatif umumnya berasal dari biji. Pada kenyataannya kita dapat membedakan antara bibit dan benih yang keduanya digunakan dalam proses pembiakan tanaman.
Kegiatan perbanyakan tanaman dengan mencangkok merupakan kegiatan yang biasa dilakukan di nursery tanaman buah. Tanaman induk yang akan dicangkok
dipilih karena karakternya yang diinginkan. Tanaman induk diusahakan setelah dicangkok tidak mati sehingga dapat berkembang kembali dan menjadi tanaman induk untuk dicangkok di kemudian hari lainnya.
Kaitannya terhadap praktikum kegiatan ini yang dilakukan dengan menggunaka indicator tanaman sri rejeki memberikan pambalajaran dan pengetahuan di bidang perbanyakan tanaman.




1.2  Tujuan
1.      Untuk mengetahui dan mempelajari cara mencangkok, dan untuk mengetahui pertumbuhan akar cangkok.
2.      Untuk mengetahui pengaruh media cangkokan terhadap pembentukan sistem perakaran.
3.      Mengetahui secara langsung cara mencangkok tanaman.

1.3  Manfaat
1.      Dapat mengetahui dan mempelajari cara mencangkok, dan untuk mengetahui pertumbuhan akar   cangkok.
2.      Dapat mengetahui pengaruh media cangkokan terhadap pembentukan sistem perakaran
3.      Dapat mengetahui secara langsung cara mencangkok tanaman.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Mencangkok adalah cara memperbanyak tanaman dimana pembentukan akar pada calon tanaman baru terjadi ketika masih melekat pada tanaman induknya. Air dan mineral tetap diangkut melalui xylem ke tunas / cabang yang dicangkok. Dengan demikian, hasil perbanyakan dengan  cara mencangkok lebih tinggi daripada hasil perbanyakan denga stek. Ada 2 macam cara mencangkok yang sering dilakukan pada tanaman tertentu  (Ismiyati Sutarto,1994).
Merundukkan batang / cabang ke tanah . Pembentukan akar di rangsang dengan berbagai perlkuan yang dapat menghentikan tranlokasi bahan organic seperti karbohidrat, auxin dan faktor pertumbuhan yang lan dari dan ujung tunas ke bagian bawah tunas yang di cangkok (Ismiyati Sutarto).
Mencangkok tanaman adalah salah satu cara teknik memperbanyak tanaman buah dalam pot, selain itu kualitas buahnya sama dengan induknya dan juga pohonnya tidak terlalu tinggi. Tanaman yang bisa dicangkok antara lain: jambu, jambu air, mangga, sawo, dan lain-lain (Wilkins, 1991).
Mencangkok atau okulasi adalah teknik pengembangbiakan tanaman yg sangat cocok utk di tanam di dalam pot. Di samping karena qualitas buahnya terjaga sama spt induknya juga nantinya pohon tumbuh tidak terlalu tinggi. Pohon yg dikembangbiakan dg teknik cangkok tidak akan mempunyai akar tunggang.(Ansown, 1989).
Beberapa tanaman tertentu memilki kemampua untuk memperanyak diri dengan pencangkokan yang terjadi secara alami, yaitu sulur dan anakan terutama pad tanaman yang berbentuk roset (Wahyuni, Sri, 1998).
Pembentukan biji melalui proses penyerbukan (jatuhnya tepung sari pada kepala putik) kemudian dilanjutkan dengan pembuahan (peleburan antara gamet jantan dari tepung sari dan gamet betina dari putik). Dalam kontek agronomi, benih sebagai bahan tanaman merupakan biji yang diproduksi, diproses, dan diuji dengan metode standar sehingga memenuhi persyaratan sebgai bahan tanaman (Kusbiantoro, 1993).
Cabang pilihan yang akan dicangkok dikelupas kulit cabangnya kirakira 7 cm. Kambium pada cabang dikerik hingga bersih sampai bagian yang dikerik tidak lagi terasa licin tapi kasar. Pengelupasan kulit cabang ini dimaksudkan untuk memutus aliran hara dari batang ke cabang sehingga akar dapat terbentuk pada cabang yang dicangkok. Kemudian pada ujung potongan kulit cabang atas, pasta Rooton F dioleskan. Pengolesan tersebut dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan akar. (Wahid, 2000).
BAB 3 METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Kegiatan praktikum pembiakan vegetatif dengan cara mencangkok (air layerage)  dilaksanakan di lab Universitas Tribhuwana Tunggadewi pada tanggal 11 Desember 2015, pukul14.00 WIB.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1.      Tali rafia warna hijau.
2.      Sabut kelapa.
3.      Plastik.
4.      Pisau tajam (cutter).
3.2.1 Bahan
1.      Tanaman kakao,
2.      tanaman jambu biji,
3.      tanaman puring (Codiatum variegatum).
4.      pupuk kompos atau pupuk kandang.
5.      Tanah.
3.3  Cara Kerja Pengamatan
1.      Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan.
2.      Memilih batang atau cabang yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.
3.      Menyayat/menghilangkan kulit dan kambium pada batang atau cabang tersebut sepanjang + 10 cm.
4.      Setelah kita kupas kulitnya,kita biarkan saja selama 4 hari untuk kita tunggu lendir kambium tersebut kering.
5.      Memberi media pada bagian yang luka secukupnya dengan pupuk kandang dan kompos, kemudian ditutup dengan serabut kelapa dan plastik.
6.      Menjaga kelembapan media dengan cara menyiram air.
7.      Perbadingan tanah dan kompos adalah 1: 3.
3.4  Parameter Pengamatan
1.      Mengamati tumbuhnya akar
2.      Pengaruh media tanam ketanaman yang dicangkok


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1     Hasil
Tabel pengamatan cangkok tanaman
No
Tanaman
Media Cangkok
Perakaran
Tumbuh
Tidak Tumbuh
1
Kakao
Plastik


2
Puring Mini
Sabut Kelapa


3
Jambu Biji
Plastik








4.2     Pembahasan
1)      Tanaman kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang dikembangluaskan dalam rangka peningkatan sumber devisa negara dari sektor nonmigas. Tanaman kakao tersebut merupakan salah satu anggota genus Theobrama dari familia Sterculaieeae yang banyak dibudidayakan, yang secara sistematika mempunyai urutan taksa sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio       : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Ordo                : Malvales
Familia            : Sterculiaceae
Genus              : Theobroma
Spesies            : Theobroma cacao L.
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada masing-masing Tanaman kakao, tanaman puring mini dan tanaman jambu biji tingkat keberhasilannya tidak sama.
Pada tanaman kakao pencangkokan tidak berhasil karena pencangkokan sebuah tanaman  yang memiliki diameter kurang dari 3 mm,bisa kita pastikan,akan gagal total dalam kita mencangkok tersebut,sebab batang tanaman tersebut masih terlalu mudah untuk kita lakukan pencangkokan.
Mengapa batang yang masih mudah sering mengalami kegagalan??banyak faktor serta penyebabnya,yang paling utama,batang yang masih mudah masih sangat minim untuk menyimpan cadangan makananya.dengan demikian bisa kita pastian keberhasilan jauh dari angan-angan kita.Bagitupun jika menggunakan sebuah batang yang besar melebihi 5 cm.faktor penyebab kegagalan pada batang yang terlalu besar adalah sel pada batang tanaman tersebut sudah kedaluarsa,terlalu tua untuk kita cangkok.cara inipun juga jauh dari kata keberhasilan.
Kesalahan jika  mencangkok sebuah tanaman,gunakan media tanah yang bisa kita ambil dengan kedalam 40 cm dari permukaan.sebab tanah dengan kedalam tersebut sedikit mengandung bahan organik serta terbebas dari mikroogranisme sehingga tanah tersebut akan lebih steril.berikut ini penyebab kegagalan dalam mencangkok tanaman kakao serta cara mengatasinya.
a)      Kecerobahan serta kurangnya berhati-hati saat kita menguliti batang tanaman kakao  yang akan kita cangkok tersebut ini bisa saja akan merusak sebuah jaringan tapis pada tanaman tersebut.
b)      batang busuk,hal ini akibat media  yang kita gunakan terlalu basah.
Cara Menaggulanginya.
·         Sebaiknya dalam kita menguliti batang berhati-hati,jangan sampai merusak jaringan tapis batang tanaman tersebut.
·         Lakukan penyiraman pada alat serta media yang akan kita gunakan untuk mencangkok sebelum kita menampelkan pada batang tanaman.
·         cari dan sebaiknya gunakan sebuah media tanam untuk mencangkok yang memiliki cukup porous.

2)      Puring mini (Codiaeum variegatum), puring, atau kroton adalah tanaman hias pekarangan populer berbentuk perdu dengan bentuk dan warna daun yang sangat bervariasi. Beragam kultivar telah dikembangkan dengan variasi warna dari hijau, kuning, jingga, merah, ungu, serta campurannya. Bentuk daun pun bermacam-macam: memanjang, oval, tepi bergelombang, helainya "terputus-putus", dan sebagainya.
Secara botani, puring adalah kerabat jauh singkong serta kastuba. Ciri yang sama adalah batangnya menghasilkan lateks berwarna putih pekat dan lengket, yang merupakan ciri khas suku Euphorbiaceae.
Puring berasal dari Kepulauan Nusantara namun kini telah tersebar di seluruh daerah tropika dan subtropika, serta menjadi salah satu simbol turisme.


Nama latin                         : Codiaetum variegatum
Nama umum                      : Puring (Indonesia), Croton (English)
Klasifikasi :
Kingdom                           :     Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom                      :     Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Superdivisi                        :     Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                                 :     Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                                 :     Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas                          :     Rosidae
Ordo                                  :     Euphorbiales
Famili                                :     Euphorbiaceae
Genus                                :     Codiaeum
Spesies                  :     Codiaeum variegatum

Pada tanaman puring mini ini pencangkokan cukup sedemikian berhasil, dengan beberapa faktor keberhasilan diantaranya :
komposisi media yang digunakan, dan balutan yang digunakan, menggambarkan hasil yang berbeda-beda. Dalam perbandingan media dapat diketahui, bahwa media yang paling cocok untuk digunakan dalam mencangkok adalah pupuk kandang, dibuktikan dengan jumlah dan panjang akar yang selalu lebih besar dibandingkan pada komposisi media yang lain, dalam satu jenis balutan yang sama (missal membandingkan hasil dari media yang dibaluti sabut kelapa saja). Hal tersebut dikarenakan di dalam pupuk kandang terdapat berbagai hara-hara kompleks yang sangat dibutuhkan tanaman dalam pengambilan nutrisi yang kaitannya dengan pembentukan akar selain itu pupuk kandang juga banyak mengandung mikroorganisme menguntungkan yang terdapat dalam kotoran hewan yang merupakan bahan baku pembuatan pupuk kandang, untuk tanaman juga media, yang bisa membantu pertumbuhan tanaman dan akar. Secara garis besar jumlah dan panjang akar antara media yang dibalut dengan sabut kelapa lebih banyak dan lebih panjang.
Hal ini bisa terjadi karena faktor pembalut medianya, dalam mencangkok, bagian yang dicangkok selalu membutuhkan kelembaban, antara sabut kelapa dan plastik, dalam penyimpanan kelembaban air lebih bagus sabut kelapa, karena walaupun sabut kelapa berpori juga bersifat meresap dan menahan rembesan air dan tahan lama.


3)      Jambu biji
Tumbuhan ini berbentuk pohon, Batang jelas terlihat, berkayu (lignosus), silindris, permukaanya licin dan terlihat lepasnya kerak (bagian kulit yang mati), batang berwarna coklat muda, percabangan dikotom. Arah tumbuh cabang condong keatas dan ada pula yang mendatar. Jambu biji memiliki cabang sirung pendek (virgula atau virgula sucre scens) yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas-ruas yang pendek.

Klasifikasi

Jambu biji (Psidium guajava L.)

Kingdom               : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom          : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi          : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                     : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                     : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas              : Rosidae
Ordo                      : Myrtales
Famili                    : Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Genus                    : Psidium
Spesies      Psidium guajava L.
Dari hasil praktikum diketahui bahwa penggunaan media cangkok dengan pupuk kompos yang didibalut dengan menggunakan plastik berwarna transparan memberikan hasil yang baik, hal ini karena pada cangkokan ini diperlakukan baik dengan menyiram media cangkokan tersebut setiap harinya serta pada prinsipnya pupuk kaompos dapat menyimpan air cukup lama sehingga persediaan air untuk merangsang pembentukan akar pada cangkokan akan terus terjaga. Pembalutan dengan plastik membuat temperature cangkokan menjadi sesuai dan kelembapannya seimbang. Sehingga teknik ini membuktikan bahwa pencakokan yang baik dapat  menggunakan media pupuk kkandang yang dibalut dengan menggunakan plastic berwarna hitam.
Dalam mencangkok juga diperlukan perawatan yang hati-hati karena tanaman hasil cangkokan kebanyakan perakarannya menjadi lemah. Mengapa demikian, karena tanaman hasil cangkokan tersebut memiliki akar serabut sehingga tanaman akan mudah roboh. Adapun kegagalan dalam pencakokan dikarenakan oleh beberapa hal diantaranya seperti kurang bersihnya pengkeratan pada batang yang menyebabkan cambium masih tersisa.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5. 1 Kesimpulan
Dari kegiatan praktikum yang di lakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain :
1)      Mencangkok adalah suatu teknik perbanyakan tanaman dengan cara merangsang timbulnya perakaran pada cabang pohon sehingga dapat ditanam sebagai tanaman baru mencangkok merupakan salah satu upaya pembiakan tanaman.
2)      Penutup yang digunakan dalam pencangkokkan ini juga berpengaruh pada tumbuhnya akar pada cangkokkan. Penutup yang berasal dari serabut lebih efektif daripada penutup dari plastik karena serabut lebih mudah menahan air yang disiramkan pada cangkokkan sehingga mudah merangsang akar untuk tumbuh.
3)      Perlakuan dengan mengurangi daun berpengaruh terhadap keberhasilan tanaman karena jika daun tidak dikurangi maka penguapan tanaman akan tinggi dan kemungkinan untuk mendapat hasil yang optimal sangatlah rendah.
4)      Pertumbuhan akar cangkokan dapat secara maksimum apabila kondisi media pembalut, bahan pembungkus sesuai dan mendukung untuk melakukan pertumbuhan
5)      Kegagalan dalam pencangkokan disebabkan oleh berbagai hal diantaranya adalah kurang bersihnya dalam pembersihan cambium pada batang akan dicangkok, alat penyayatan kuarng steril serta tidak adanya perawatan seperti penyiraman pada cangkokan.
5. 2 Saran
Sebaiknya selalu diperhatikan kekompakan setiap anggota kelompok dan ketelitian dalam percobaan agar mendapatkan hasil yang maksimal.
  Dalam praktikum ini hendaknya lebih mempersiapkan tanaman yang benar – benar memenuhi Kriteria tanaman untuk dapat dicangkok. Disamping itu dalam proses pencangkokan harus lebih rajin dalam penjagaan kelembapan media cangkok agar mendapatkan hasil cangkokan yang optimal.







DAFTAR PUSTAKA

Ashari, S. 1995. Holtikultura. UI-PRESS, Jakarta.
Danu dan J. Tampubolon, 2002. Pengaruh Jumlah Mata Ruas Stek dan Konsentrasi
Herawan, T., 2003. Propagasi Klon Acacia mangium Melalui Kultur Jaringan. Jurnal
          IBATerhadap Pertumbuhan Stek Batang Gmelina arborea LINN. Balai
Kusbiantoro, b. 1993. Teknik perbanyakan vegetatif, mencangkok. Agro jurnal(2): 9
Kusumo,S,2001. Zat Pengatur Tum buh Tanaman. Penerbit CV. Yasaguna. Jakarta.
Wahid. 2000. Media bahan perkembangan vegetatif. Agro jurnal : 4-5
Wahyuni, sri. 1998. Pengembangan vegetatif mencangkok. Agro jurnal : 59
Wilkins. 1991. Fisiologi lingkungan tanaman. Yogyakarta : gajah mada press.
Adinugraha, Hamdan Adma. 2007. “Teknik Perbanyakan Vegetatif Jenis Tanaman Acacia mangium”. Info Teknis 5 (2).
Ashari, S. 1995. Holtikultura. UI-PRESS, Jakarta.
Kusumo,S.2001. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Penerbit CV. Yasaguna. Jakarta.
Putri, Kurniawati P. , D, Dharmawati F. , dan Suartana, M. 2007. Pengaruh Media dan     Hormon Tumbuh Akar Terhadap Keberhasilan Cangkok Ulin. Jurnal.           PenelitianHutan Tanaman 4 (2):069 – 118.
Salisbury & Cleon, R. 1995. Fisiologi Tumbuhan.  Penerbit ITB, Bandung.
Perendaman Terhadap Pertumbuhan Setek Pucuk Jambu Air”. Jurnal Hortikultura 7 (4).
Tjitrosoepomo, Gembong, 1985, Morfologi Tumbuhan, 32-235, Gajah Mada University
            Press, Yogyakarta.
Wudianto, R. 1999. Membuat Setek, Cangkok dan Okulasi. Penebar Swadaya, Jakarta.



Lampiran






Gambar 02: Hasil Tanaman cacao
Gambar 01: Proses pengikatan tanaman Cacao






Gambar 03Tanaman Puring Mini
Gambar 04: Tanaman Puring Mini







Gambar 05: Tanaman Jambu Biji
Gambar 06: Tanaman Jambu Biji