Selasa, 17 Mei 2016

Praktikum Pupuk dan Pemupukan




LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PUPUK DAN PEMUMPUKAN
Tanaman Kedelai Glycine max (L.) Merr”
Dosen: Hidayati Karamina, SP. SH. MP
SEMESTER GANJIL 2015/2016
Description: E:\UNITRI\logouni.psd.png
















KELOMPOK 4
NURUL SHOLEHUDDIN                 2014330069
MUMHAMMAD RODLI                   2014330064
MEKAEL                                           20143300…
MELFINSINSIUS H PATI                 2014330060
PAULUS                                             2014330059

PRODI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG JAWA TIMUR
2015
 


I.                   PENDAHULUAN
a.   Latar belakang
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumberdaya alam berupa lahan yang relatif cukup luas dan subur. Dengan iklim, suhu dan kelembaban yang cocok untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman pangan pokok, maka hampir seluruh tanaman pangan pokok tersebut (biji-bijian, umbi-umbian dan kacang-kacangan asli Indonesia) dapat tumbuh dengan relatif baik. Salah satu jenis tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah tanaman kedelai (Glysine max (L) Merril).
Kedelai merupakan salah satu mata dagangan yang pasokannya di Indonesia semakin cenderung tidak dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri sendiri. Sekalipun dapat ditanam dengan cara yang paling sederhana sekalipun, produktivitas dan produksinya dalam negeri hampir tidak mungkin dapat memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Secara teknis upaya peningkatan produksi dan produktivitas tanaman kedelai sudah tentu harus mengubah pola tanam yang belum intensif menjadi pola tanam intensif. Hal tersebut dilaksanakan dengan cara lebih memantapkan penataan yang meliputi perbaikan serta penyempurnaan dalam penerapan teknologi pada setiap siklus produksi, yang dimulai dari proses persiapan dan pembuatan serta penyediaan pembenihan kedelai yang unggul, persiapan lahan, waktu penanaman dan penerapan teknologi penanaman, serta pemeliharaan tanaman.
Dalam pertanian, serangan hama dan penyakit pada pertanaman merupakan salah satu penghambat tercapainya potensi produksi dari suatu jenis tanaman. Pengendalian hama dan penyakit yang tepat akan sangat berpengaruh pada hasil akhir atau produksi pertanaman. Untuk dapat melakukan pengendalian yang tepat, pelaku pertanian (petani) perlu memiliki pengetahuan yang lengkap atas segala segi pertanamannya, mulai dari asal benih, sejarah pemanfaatan lahan, hingga pascapanen. Pemupukan juga perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman kedelai, untuk menghasilkan produksi yang tinggi. Pemupukan yang optimal akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang baik dan produksi yang lebih banyak.
Budidaya kedelai juga harus memperhatikan beberapa faktor umum, seperti faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal menyangkut sifat genetis yang terkandung pada tanaman yang akan dibudidayakan. Faktor genetis pada tanaman yaitu keunggulan - keunggulan tertentu yang dimiliki oleh tanaman itu sendiri, seperti genetis yang mendukung jumlah produksi tanaman, mendukung tanaman agar toleran terhadap faktor biotik dan abiotik yang kurang menguntungkan, atau mendukung hal - hal lain. Sedangkan faktor eksternal mencakup keadaan lingkungan di sekitar tempat tanaman tumbuh, baik itu lingkungan biotik yang biasanya dikaitkan dengan organisme - organisme lainnya yang berasosiasi dengan tanaman, baik itu asosiasi yang bersifat mutualisme maupun parasistisme. Lingkungan lainnya yaitu abiotik, seperti keadaan cuaca atau iklim, intensitas cahaya, curah hujan, pH tanah, keadaan keharaan tanah dan lain sebagainya.
Menurunnya produksi kedelai disebabkan oleh banyak hal salah satunya tehnik budidaya tanaman yang tidak sesuai, pemilihan benih yang tidak memiliki karakter yang baik, pemeliharaan, pemupukan yang tidak tepat, sehingga dapat menyebabkan tanaman mengalami hambatan dalam pertumbuhannya dan perkembangannya, oleh karena itu praktikum teknik produksi tanaman kedelai perlu diadakan guna untuk meningkatkan produksi tanaman tersebut.  
b.      Tujuan
1.         Untuk mengetahui dan menghitung produktivitas tanaman kedelai.
2.         Untuk mengetahui tehnik budidaya tanaman kedelai yang baik sesuai dengan kondisi tanah.
3.         Untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai (Glycine max L.) serta dapat mengetahui dosis pupuk organic yang tepat untuk mendapatkan hasil produksi tanaman kedelai yang maksimal.
c.       Manfaat
Manfaat praktikum Budidaya Tanaman Semusim (kedelai) yaitu sebagai bahan pembanding bagi kegiatan praktikum lainnya, dan sebagai media pembelajaran mahasiswa sebelum melakukan kegiatan penelitian ilmiah yang sesungguhnya.













II.                TINJAUAN PUSTAKA
a.   Klasifikasi Tanaman Kedelai
Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine soja   dan Soja max  . Namun pada tahun 1948 telah disepakatibahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max  (L.) Merill. Menurt Adisarwanto (2005) klasifikasi tanaman kedelai yaitu sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Subkingdom    : Tracheobionta
Super Divisi    : Spermatophyta
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Sub Kelas        : Rosidae
Ordo                : Fabales
Famili              : Fabaceae
Genus              : Glycine
Spesies            : Glycine max (L.) Merr.
b.      Morfologi Tanaman Kedelai
a.       Akar
Akar kedelai mulai muncul dari belahan kulit biji yang muncul di sekitar misofil. Calon akar tersebut kemudian tumbuh dengan cepat ke dalam tanah, sedangkan kotiledon yang terdiri dari dua keping akan terangkat ke permukaan tanah akibat pertumbuhan yang cepat dari hipokotil. Sistem perakaran kedelai terdiri dari dua macam, yaitu akar tunggang (Suprapto,  1998).
b.      Batang
Waktu tanaman kedelai masih sangat muda, atau setelah fase menjadi kecambah dan saat keping biji belum jatuh, batang dapat dibedakan menjadi dua. Bagian batang di bawah keping biji yang belum lepas disebut hipokotil, sedangkan bagian di atas keping biji disebut epikotil. Batang kedelai tersebut berwarna ungu atau hijau (Bertham, 2002).
c.       Daun
Umumnya, bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Kedua bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. Bentuk daun diperkirakan mempunyai korelasi yang sangat erat dengan potensi produksi biji. Umumnya, daerah yang mempunyai tingkat kesuburan tanah tinggi sangat cocok untuk varietas kedelai yang mempunyai bentuk daun lebar. Daun mempunyai stomata, berjumlah antara 190-320 buah/m2 (Danarti dkk, 1995).
c.       Syarat Tumbuh
a.      Iklim
Tanaman kedelai sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Sebagai barometer iklim yang cocok bagi kedelai adalah bila cocok bagi tanaman jagung. Bahkan daya tahan kedelai lebih baik daripada jagung. Iklim kering lebih disukai tanaman kedelai dibandingkan iklim lembab (Sumarno, 1987).
b.      Tanah
Kedelai tidak menuntut struktur tanah yang khusus sebagai suatu persyaratan tumbuh. Bahkan pada kondisi lahan yang kurang subur dan agak asam pun kedelai dapat tumbuh dengan baik, asal tidak tergenang air yang akan menyebabkan busuknya akar. Kedelai dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah, asal drainase dan aerasi tanah cukup baik (Danarti, 1995).
c.       Ketinggian Tempat
Varietas kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 0,5-300 m dpl. Sedangkan varietasi kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 300-500 m dpl. Kedelai biasanya akan tumbuh baik pada ketinggian tidak lebih dari 500 m dpl (Suprapto, 1997).
d.      Bahan organik
Penggunaan pupuk kandang organik yang tersedia di pertanian dapat mengembalikan hasil dan keuntungan yang tinggi bila dipadukan dengan pupuk anorganik, terutama pada lahan kering atau lahan sawah yang sakit.Bagaimanapun, seringkali tidak menguntungkan untuk membeli pupuk organik bahkan bila pupuk tersebut dijual sebagai pupuk organik campuran, yang merupakan campuran pupuk organik dan anorganik yang siap pakai (Braja, 1985).








III.             METODOLOGI
a.      Waktu dan tempat pelaksanaan
Kegiatan praktikum Teknologi Pupuk dan Pemupukan Tanaman Kedelai (Glysine max (L) Merril) dilakukan di lahan Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang pada hari Sabtu, tanggal 24 Oktober 2015 pukul 06.30 WIB – selesai
b.      Alat dan bahan
Alat yang digunakan pada praktikum Tanaman kedelai yaitu sekop, cangkul/pacul, parang, kamera, penggaris, patok-patokan, tugal, meteran dan alat tulis menulis. Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu benih kacang kedelai (Glycine maxi L.) dan pupuk organik
c.       Tahapan pelaksanaan praktikum
1.      Membersihkan gulma pada areal penanaman dengan cara manual
2.      Setelah gulma dibersihkan secara manual oleh alat pertanian pengolahan lahan dengan mencangkul tanah supaya gembur
3.      Setelah areal lahanya diolah dengan maksimal maka dibentuklah bedengan sesuai ukuran yang ditentukan, dan membuat saluran irigasi disamping bedengan sesuai dengan perlakuan
4.      Bedengan yang sudah sedikit gembur dengan air maka persiapan penanaman benih kedelai dengan membuat 2 lubang tempat tanaman dan pupuk dengan jarak 20x20, setelah benih di masukkan dalam lubang bersamaan dengan pupuk selanjutnya ditutup kembali dengan tanah gembur di sekitar lubang. Kemudian disiram secara continue tiap hari kecuali hujan
5.      Penyulaman dilakukan maksimal 2 minggu setelah tanam, agar tidak terjadi perbedaan pertumbuhan yang terlalu mencolok antara tanaman asli dan hasil sulaman
6.      Penyiangan dilakukan setiap minggu saat terlihat gulma yang tumbuh di sekitar tanaman kedelai. Penyiangan dilakukan secara manual dengan cara mencabut gulma yang tumbuh dengan tangan..
d.      Pengamatan
Pengamatan terhadap parameter pertumbuhan dilakukan sebanyak 1 kali yaitu tiap umur 1 minggu setelah tanam sampe minggu ke 8, sedangkan untuk parameter hasil dilakukan pada saat panen. Adapun peubah yang diamati adalah sebagai berikut:
  1. Tinggi tanaman (cm), diamati mulai pangkal batang hingga daun tertinggi.
  2. Jumlah daun (helai), dihitung semua daun yang terbentuk.

IV.           HASIL DAN PEMBAHASAN
a.      Hasil
Pengamatan                 : 7 hst
Tanggal pengamatan   : 07/11/2015

Tanaman
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
1
4
3.5
2
4
4
2
2
5.5
4.2
4
4
4
4
3
6
4.6
6
4
4
3
4
6.5
4.4
3
4
4
2
5
6.5
3
4
4
4
4
6
4
4.5
3.3
4
4
3
7
5
2.6
3.5
4
4
4
8
5
5.5
5.4
4
4
4
9
7
4.3
6.2
4
4
4
10
7.5
2.3
1.2
4
4
2
Rata-rata
5.7
3.89
3.86
4
4
3.2


Pengamatan                 : 14 hst
Tanggal pengamatan   : 13/11/2015

Tanaman
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
1
8.5
6.3
8.5
7
5
8.5
2
9.5
9.3
9.5
12
7
9.5
3
9.5
9.5
8
7
7
8
4
9
8.5
7
7
7
7
5
8.7
7
9
4
7
9
6
10
7.5
10
7
7
10
7
11
7.5
9
7
6
9
8
10
8.2
10
7
7
10
9
7.2
9.8
9
3
7
9
10
12
7
11
7
5
11
Rata-rata
9.54
8.06
9.1
6.8
6.7
7.3






Pengamatan                 : 21 hst
Tanggal pengamatan   : 20/11/2015

Tanaman
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
1
9.5
6.3
9.5
8
3
7
2
9.3
9.3
10
8
7
11
3
7
10
9.5
2
9
2
4
11
7.5
11.5
11
5
10
5
9
9
8.2
2
10
5
6
12.5
6.5
11
11
8
8
7
11
7.5
10
11
8
8
8
12
8.5
9.3
11
8
8
9
7.5
9.5
8
2
8
3
10
9.5
7
9
8
8
1
Rata-rata
9.83
8.11
9.6
7.4
7.4
6.3


Pengamatan                 : 28 hst
Tanggal pengamatan   : 27/11/2015

Tanaman
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
1
12.8
9
11
15
4
20
2
8.6
6.4
12.7
7
5
12
3
10.3
12.1
10.2
5
21
17
4
15
8.7
13.6
20
10
14
5
14
9
11.3
13
10
14
6
17
6.6
12
17
11
14
7
13.8
8.7
9.6
14
6
10
8
12
14.6
12.8
11
17
14
9
7.5
9.4
6
2
8
7
10
13
6.3
9
14
9
13
Rata-rata
12.4
9.08
10.82
11.8
10.1
13.5













Pengamatan                 : 35 hst
Tanggal pengamatan   : 04/12/2015

Tanaman
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
1
17
19
19
38
14
30
2
15
14
19.5
10
17
27
3
14
13
14
16
26
23
4
19
14
16
30
16
27
5
15
20
16
11
14
17
6
17
18
18.4
17
21
36
7
23
13
16
28
15
25
8
18
15
13.2
26
14
10
9
13
22
15.5
14
27
31
10
20
8.5
13
23
11
12
Rata-rata
17.1
15.65
16.06
21.3
17.5
23.8


Pengamatan                 : 42 hst
Tanggal pengamatan   : 11/12/2015

Tanaman
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
1
25
20
19
19
19
37
2
20
21
20
12
22
42
3
21
18
21
16
23
31
4
19
29
19.5
16
20
36
5
13
30
16.5
17
26
28
6
22
18
19
14
21
47
7
23
19
19.3
11
22
38
8
25
20
16
12
30
12
9
22
22
19.5
24
15
51
10
20
16
12
19
26
4
Rata-rata
21
21.3
18.18
16
22.4
32.6













Pengamatan                 : 49 hst
Tanggal pengamatan   : 18/12/2015

Tanaman
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
1
25
21
20
43
18
36
2
20
20
20
41
20
39
3
20
18
34
20
36
36
4
19
29
20
13
30
36
5
22
30
20
24
18
34
6
34
30
25
34
17
53
7
23
18
20
42
33
34
8
25
20
26
12
27
53
9
25
22
20
34
21
24
10
19
18
20
16
15
36
Rata-rata
23.2
22.6
22.5
27.9
23.5
38.1


Pengamatan                 : 56 hst
Tanggal pengamatan   : 26 Des 2015

Tanaman
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
1
25.5
21
20.5
44
21
30
2
21
20.5
20
41
19
39
3
20
19
34
20
36
39
4
19
29
20
13
30
36
5
22
30.5
20.3
24
18
34
6
34.2
30
25
34
20
56
7
23
18.5
20.2
42
33
34
8
25
20
26
14
27
53
9
25
22
20
34
21
29
10
20
19
20
16
18
36
Rata-rata
23.47
22.95
22.6
28.2
24.3
38.6


Tanaman
Jumlah Polong
Bedengan
1
Bedengan
2
Bedengan
3
1
3
6
13
2
32
12
25
3
21
11
35
4
11
6
19
5
21
8
26
6
16
22
9
7
44
18
32
8
28
11
18
9
25
33
9
10
17
10
37
Rata-rata
21.8
13.7
22.3

b.      Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil bahwa pada tanaman kedelai mengalami pertumbuhan yang cukup cepat karena tanaman kedelai termasuk tanaman berumur pendek, dalam penanaman kedelai kendala yang dialami hanya pada serangan hama dan gulma yang mengganggu lahan tanam. Lahan tanam yang digunakan dibuat seperti bedengan,
Pengamatan yang dilakukan hanya pada tinggi tanaman dan jumlah daun sejak mulai tanam, Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil bahwa pada tanaman kedelai tinggi tanaman yang paling tinggi reratanya, terdapat pada sampel bedengan ke III pengamatan 28 Hst yaitu reratanya 12.4 cm ke 17.1 cm 35 Hst jarak meningkatnya tinggi tanaman tersebut adalah 5 cm  dan yang paling rendahnya peningkatan tinggi tanaman kedelai terdapat pada bedengan ke III pengamatan 49 Hst dengan rerata 22.5 cm ke 22.6 cm 56 Hst dengan jarak peningkatan 0.1.
Pada pengamatan daun kedelai rerata total jumlah daun yang paling meningkat adalah bedengan ke III pada pengamatan 28 Hst rerata 13.5 ke 23.8 35 Hst dengan peningkatan jumlah sekitar 10 daun helai kedelai. Namun terjadi penurunan jumlah daun pada bedengan ke I 35 Hst rerata 21.3 dengan penurunan total 5 jumlah daun yaitu 16 42 Hst .
Kemudian penghitungan jumlah total dalam pruduksi polong rerata kedelai terbanyak terdapat pada bedengan ke III dengan jumlah total rata-rata 22.3 dan yang paling rendah terdapat pada bedengan ke II jumlah reratanya 13.7.
Dengan beberapa pengamatan praktikum teknologi pupuk dan pemupukan bahwasanya meningkat dan menurunnya tinggi, jumlah daun dan hasil kedelai itu ditentukan atas berbagai faktor diantaranya :
1.      Tanah
Olah tanah yang merupakan media pendukung pertumbuhan akar. Artinya, semakin dalam olah tanahnya maka akan tersedia ruang untuk pertumbuhan akar yang lebih bebas sehingga akar tunggang yang terbentuk semakin kokoh dan dalam.
2.      Iklim 
Untuk mencapai pertumbuhan tanaman yang optimal, tanaman kedelai memerlukan kondisi lingkungan tumbuh yang optimal pula. Tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan faktor lingkungan tumbuh, khususnya tanah dan iklim
3.      Suhu 
Tanaman kedelai dapat tumbuh pada kondisi suhu yang beragam. Panjang hari (photoperiode) 
Tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan panjang hari atau lama penyinaran sinar matahari karena kedelai termasuk tanaman “hari pendek”. Artinya, tanaman kedelai tidak akan berbunga bila panjang hari melebihi batas kritis, yaitu 15 jam perhari
Distribusi curah hujan hal yang terpenting pada aspek distribusi curah hujan yaitu jumlahnya merata sehingga kebutuhan air pada tanaman kedelai dapat terpenuhi. Jumlah air yang digunakan oleh tanaman kedelai tergantung pada kondisi iklim, sistem pengelolaan tanaman, dan lama periode tumbuh. Namun demikian, pada umumnya kebutuhan air pada tanaman kedelai berkisar 350 – 450 mm selama masa pertumbuhan kedelai. Pada saat perkecambahan, faktor air menjadi sangat penting karena akan berpengaruh pada proses pertumbuhan. Kebutuhan air semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur tanaman. Kebutuhan air paling tinggi terjadi pada saat masa berbunga dan pengisian polong.
            Kondisi kekeringan menjadi sangat kritis pada saat tanaman kedelai berada pada stadia perkecambahan dan pembentukan polong. Untuk mencegah terjadinya kekeringan pada tanaman kedelai, khususnya pada stadia berbunga dan pembentukan polong, dilakukan dengan waktu tanam yang tepat, yaitu saat kelembaban tanah sudah memadai untuk perkecambahan. Selain itu, juga harus didasarkan pada pola distribusi curah hujan yang terjadi di daerah tersebut



V.              KESIMPULAN DAN SARAN
a.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa Tanaman kedelai setiap minggunya mengalami kenaikan pertumbuhan, namun pertumbuhannya lambat dan kenaikannya tidak terlalu tinggi.
Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh dalam kematian tanaman kedelai:
1.      Tanah yang kurang di olah
2.      Banyaknya gulma tidak di buang
3.      Suhu iklim yang tidak beraturan
4.      Hama menyerang yang tidak keliatan secara kasat mata sehingga kesulitan untuk mebasminya
5.      Pupuk yang tidak mewadai
6.      Curah hujan tidak maksimal
b.      Saran
Untuk melakukan praktikum tanaman kedelai perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat menghambat dalam produksi tanaman kedelai seperti lingkungan, cara budidaya dan lain-lain serta memperhatikan dosis pupuk yang akan diberikan sehingga pemberian pupuk lebih efisien digunakan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
Agroudy, dkk. 2011. An economic study of the production of soybean in Egypt. Agriculture
And Biology (2): 221-225.
Budhi dan Amiah. 2010. Swasembada Kedelai Antara Harapan Dan Kenyataan. Agro Ekonomi 28(1) : 55 – 68.
Chianu, dkk. 2009. Promoting a Versatile but yet Minor Crop Soybean in the Farming Systems of Kenya. Sustainable Development in Africa 10(4) : 324 – 344.
Fachruddin. 2000. Budidaya Kacang Kacangan. Kanisius. Yogyakarta.
Lingga dan Marsono. 2008. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Liu, Mingming. 2010. An Analysis on Total Factor Productivity and Influencing Factors of Soybean in China. Agricultural Science 2(2) : 158 – 163.
Pitojo, S. 2003. Seri Penangkaran Benih kedelai. Kanisius. Yogyakarta.


LAMPIRAN








Description: E:\30 Oktober '15, praktek lahan\DSCN7374.JPG

Description: E:\30 Oktober '15, praktek lahan\DSCN7399.JPG





Description: E:\30 Oktober '15, praktek lahan\DSCN7379.JPG




Description: E:\30 Oktober '15, praktek lahan\DSCN7380.JPG

 


Gambar 6: Penanaman
 
Gambar 5: Pupuk Kandang
 
Gambar 4: Irigasi Lahan Siap Tanam
 
Gambar 3: Bentuk Bedengan Tanaman
 
Gambar 2: Pengolahan lahan
 
Gambar 1: Sosialisasi Tahap Praktikum
 














Description: G:\DSC_0063.JPG



Description: E:\UNITRI\MATA KULIAH\Semester 3\Teknologi pupuk dan pemupukan\Foto\20151127_072740.jpg


Description: E:\UNITRI\MATA KULIAH\Semester 3\Teknologi pupuk dan pemupukan\Foto\20151227_171808.jpg


Description: E:\UNITRI\MATA KULIAH\Semester 3\Teknologi pupuk dan pemupukan\Foto\IMG-20151204-01815.jpg




Description: E:\UNITRI\MATA KULIAH\Semester 3\Teknologi pupuk dan pemupukan\Foto\IMG-20151204-01810.jpg


Description: E:\UNITRI\MATA KULIAH\Semester 3\Teknologi pupuk dan pemupukan\Foto\20151127_073207.jpg

 





Gambar 8: Pengamatan Tanaman
 
Gambar 7: Pembersihan Gulma 7 HST
 









Gambar 10: Pemberian Pupuk Susulan
 
Gambar 9: Perbaikan Tanaman yg miring
 










Gambar 12: Penghitungan Polong
 
Gambar 11: Penggemburan Lahan
 
                                                                                        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar