LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PUPUK DAN PEMUMPUKAN
“Tanaman Kedelai Glycine max (L.) Merr”
Dosen: Hidayati Karamina, SP. SH. MP
SEMESTER GANJIL 2015/2016

KELOMPOK 4
NURUL SHOLEHUDDIN 2014330069
MUMHAMMAD RODLI 2014330064
MEKAEL 20143300…
MELFINSINSIUS H PATI 2014330060
PAULUS 2014330059
PRODI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG JAWA TIMUR
2015
I.
PENDAHULUAN
a.
Latar
belakang
Indonesia adalah salah satu negara
yang memiliki sumberdaya alam berupa lahan yang relatif cukup luas dan subur.
Dengan iklim, suhu dan kelembaban yang cocok untuk kebutuhan pertumbuhan
tanaman pangan pokok, maka hampir seluruh tanaman pangan pokok tersebut
(biji-bijian, umbi-umbian dan kacang-kacangan asli Indonesia) dapat tumbuh
dengan relatif baik. Salah satu jenis tanaman pangan yang sangat dibutuhkan
oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah tanaman kedelai (Glysine max (L)
Merril).
Kedelai merupakan salah satu mata
dagangan yang pasokannya di Indonesia semakin cenderung tidak dapat dipenuhi
dari hasil produksi dalam negeri sendiri. Sekalipun dapat ditanam dengan cara
yang paling sederhana sekalipun, produktivitas dan produksinya dalam negeri
hampir tidak mungkin dapat memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Secara
teknis upaya peningkatan produksi dan produktivitas tanaman kedelai sudah tentu
harus mengubah pola tanam yang belum intensif menjadi pola tanam intensif. Hal
tersebut dilaksanakan dengan cara lebih memantapkan penataan yang meliputi
perbaikan serta penyempurnaan dalam penerapan teknologi pada setiap siklus
produksi, yang dimulai dari proses persiapan dan pembuatan serta penyediaan
pembenihan kedelai yang unggul, persiapan lahan, waktu penanaman dan penerapan
teknologi penanaman, serta pemeliharaan tanaman.
Dalam pertanian, serangan hama dan
penyakit pada pertanaman merupakan salah satu penghambat tercapainya potensi
produksi dari suatu jenis tanaman. Pengendalian hama dan penyakit yang tepat
akan sangat berpengaruh pada hasil akhir atau produksi pertanaman. Untuk dapat
melakukan pengendalian yang tepat, pelaku pertanian (petani) perlu memiliki
pengetahuan yang lengkap atas segala segi pertanamannya, mulai dari asal benih,
sejarah pemanfaatan lahan, hingga pascapanen. Pemupukan juga perlu diperhatikan
dalam budidaya tanaman kedelai, untuk menghasilkan produksi yang tinggi.
Pemupukan yang optimal akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang baik dan
produksi yang lebih banyak.
Budidaya kedelai juga harus
memperhatikan beberapa faktor umum, seperti faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal menyangkut sifat genetis yang terkandung pada
tanaman yang akan dibudidayakan. Faktor genetis pada tanaman yaitu keunggulan -
keunggulan tertentu yang dimiliki oleh tanaman itu sendiri, seperti genetis
yang mendukung jumlah produksi tanaman, mendukung tanaman agar toleran terhadap
faktor biotik dan abiotik yang kurang menguntungkan, atau mendukung hal - hal
lain. Sedangkan faktor eksternal mencakup keadaan lingkungan di sekitar tempat
tanaman tumbuh, baik itu lingkungan biotik yang biasanya dikaitkan dengan
organisme - organisme lainnya yang berasosiasi dengan tanaman, baik itu
asosiasi yang bersifat mutualisme maupun parasistisme. Lingkungan lainnya yaitu
abiotik, seperti keadaan cuaca atau iklim, intensitas cahaya, curah hujan, pH
tanah, keadaan keharaan tanah dan lain sebagainya.
Menurunnya produksi kedelai
disebabkan oleh banyak hal salah satunya tehnik budidaya tanaman yang tidak
sesuai, pemilihan benih yang tidak memiliki karakter yang baik, pemeliharaan,
pemupukan yang tidak tepat, sehingga dapat menyebabkan tanaman mengalami
hambatan dalam pertumbuhannya dan perkembangannya, oleh karena itu praktikum
teknik produksi tanaman kedelai perlu diadakan guna untuk meningkatkan produksi
tanaman tersebut.
b.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui dan menghitung produktivitas tanaman
kedelai.
2.
Untuk mengetahui tehnik budidaya tanaman kedelai yang
baik sesuai dengan kondisi tanah.
3.
Untuk
mengetahui perbedaan pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai (Glycine max L.) serta dapat mengetahui
dosis pupuk organic yang tepat untuk mendapatkan hasil produksi tanaman kedelai
yang maksimal.
c.
Manfaat
Manfaat praktikum
Budidaya Tanaman Semusim (kedelai)
yaitu sebagai bahan pembanding bagi kegiatan praktikum lainnya, dan sebagai
media pembelajaran mahasiswa sebelum melakukan kegiatan penelitian ilmiah yang
sesungguhnya.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
a.
Klasifikasi Tanaman Kedelai
Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani,
yaitu Glycine soja dan Soja max . Namun pada tahun 1948
telah disepakatibahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah,
yaitu Glycine max (L.)
Merill. Menurt Adisarwanto (2005) klasifikasi tanaman kedelai yaitu sebagai
berikut :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Glycine
Spesies : Glycine max (L.) Merr.
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Glycine
Spesies : Glycine max (L.) Merr.
b.
Morfologi Tanaman Kedelai
a.
Akar
Akar
kedelai mulai muncul dari belahan kulit biji yang muncul di sekitar misofil.
Calon akar tersebut kemudian tumbuh dengan cepat ke dalam tanah, sedangkan
kotiledon yang terdiri dari dua keping akan terangkat ke permukaan tanah akibat
pertumbuhan yang cepat dari hipokotil. Sistem perakaran kedelai terdiri dari
dua macam, yaitu akar tunggang (Suprapto,
1998).
b.
Batang
Waktu tanaman
kedelai masih sangat muda, atau setelah fase menjadi kecambah dan saat keping
biji belum jatuh, batang dapat dibedakan menjadi dua. Bagian batang di bawah
keping biji yang belum lepas disebut hipokotil, sedangkan bagian di atas keping
biji disebut epikotil. Batang kedelai tersebut berwarna ungu atau hijau
(Bertham, 2002).
c.
Daun
Umumnya,
bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Kedua
bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. Bentuk daun diperkirakan
mempunyai korelasi yang sangat erat dengan potensi produksi biji. Umumnya,
daerah yang mempunyai tingkat kesuburan tanah tinggi sangat cocok untuk
varietas kedelai yang mempunyai bentuk daun lebar. Daun mempunyai stomata,
berjumlah antara 190-320 buah/m2 (Danarti dkk, 1995).
c.
Syarat Tumbuh
a.
Iklim
Tanaman
kedelai sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis.
Sebagai barometer iklim yang cocok bagi kedelai adalah bila cocok bagi tanaman
jagung. Bahkan daya tahan kedelai lebih baik daripada jagung. Iklim kering
lebih disukai tanaman kedelai dibandingkan iklim lembab (Sumarno, 1987).
b. Tanah
Kedelai
tidak menuntut struktur tanah yang khusus sebagai suatu persyaratan tumbuh.
Bahkan pada kondisi lahan yang kurang subur dan agak asam pun kedelai dapat
tumbuh dengan baik, asal tidak tergenang air yang akan menyebabkan busuknya
akar. Kedelai dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah, asal drainase dan
aerasi tanah cukup baik (Danarti, 1995).
c. Ketinggian Tempat
Varietas
kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 0,5-300
m dpl. Sedangkan varietasi kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan dengan
ketinggian 300-500 m dpl. Kedelai biasanya akan tumbuh baik pada ketinggian
tidak lebih dari 500 m dpl (Suprapto, 1997).
d.
Bahan organik
Penggunaan pupuk kandang organik yang tersedia
di pertanian dapat mengembalikan hasil dan keuntungan yang tinggi bila
dipadukan dengan pupuk anorganik, terutama pada lahan kering atau lahan sawah
yang sakit.Bagaimanapun, seringkali tidak menguntungkan untuk membeli pupuk
organik bahkan bila pupuk tersebut dijual sebagai pupuk organik campuran, yang
merupakan campuran pupuk organik dan anorganik yang siap pakai (Braja, 1985).
III.
METODOLOGI
a.
Waktu
dan tempat pelaksanaan
Kegiatan praktikum Teknologi Pupuk dan Pemupukan Tanaman Kedelai (Glysine max (L) Merril) dilakukan di lahan Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang pada hari Sabtu, tanggal 24 Oktober 2015 pukul 06.30 WIB – selesai
b.
Alat
dan bahan
Alat yang digunakan pada
praktikum Tanaman kedelai
yaitu sekop, cangkul/pacul, parang, kamera, penggaris,
patok-patokan, tugal, meteran dan alat tulis menulis. Bahan yang digunakan pada
praktikum ini yaitu benih kacang kedelai (Glycine
maxi L.) dan pupuk organik
c.
Tahapan
pelaksanaan praktikum
1. Membersihkan gulma pada areal penanaman dengan cara
manual
2. Setelah gulma dibersihkan secara manual oleh alat
pertanian pengolahan lahan dengan mencangkul tanah supaya gembur
3. Setelah areal lahanya diolah dengan maksimal maka
dibentuklah bedengan sesuai ukuran yang ditentukan, dan membuat saluran irigasi
disamping bedengan sesuai dengan perlakuan
4. Bedengan yang sudah sedikit gembur dengan air maka
persiapan penanaman benih kedelai dengan membuat 2 lubang tempat tanaman dan
pupuk dengan jarak 20x20, setelah benih di masukkan dalam lubang bersamaan
dengan pupuk selanjutnya ditutup kembali dengan
tanah gembur di sekitar lubang.
Kemudian disiram secara continue tiap hari kecuali
hujan
5. Penyulaman
dilakukan maksimal 2 minggu setelah tanam, agar tidak terjadi perbedaan
pertumbuhan yang terlalu mencolok antara tanaman asli dan hasil sulaman
6. Penyiangan
dilakukan setiap minggu saat terlihat gulma yang tumbuh di sekitar tanaman kedelai. Penyiangan dilakukan
secara manual dengan cara mencabut gulma yang tumbuh dengan tangan..
d.
Pengamatan
Pengamatan terhadap parameter pertumbuhan
dilakukan sebanyak 1 kali yaitu tiap umur 1 minggu setelah tanam sampe minggu
ke 8, sedangkan untuk parameter hasil dilakukan pada saat panen. Adapun peubah
yang diamati adalah sebagai berikut:
- Tinggi tanaman (cm), diamati mulai pangkal batang hingga daun tertinggi.
- Jumlah daun (helai), dihitung semua daun yang terbentuk.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Hasil
Pengamatan
: 7
hst
Tanggal
pengamatan : 07/11/2015
|
Tanaman
|
Tinggi Tanaman
|
Jumlah Daun
|
||||
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
|
|
1
|
4
|
3.5
|
2
|
4
|
4
|
2
|
|
2
|
5.5
|
4.2
|
4
|
4
|
4
|
4
|
|
3
|
6
|
4.6
|
6
|
4
|
4
|
3
|
|
4
|
6.5
|
4.4
|
3
|
4
|
4
|
2
|
|
5
|
6.5
|
3
|
4
|
4
|
4
|
4
|
|
6
|
4
|
4.5
|
3.3
|
4
|
4
|
3
|
|
7
|
5
|
2.6
|
3.5
|
4
|
4
|
4
|
|
8
|
5
|
5.5
|
5.4
|
4
|
4
|
4
|
|
9
|
7
|
4.3
|
6.2
|
4
|
4
|
4
|
|
10
|
7.5
|
2.3
|
1.2
|
4
|
4
|
2
|
|
Rata-rata
|
5.7
|
3.89
|
3.86
|
4
|
4
|
3.2
|
Pengamatan
: 14
hst
Tanggal
pengamatan : 13/11/2015
|
Tanaman
|
Tinggi Tanaman
|
Jumlah Daun
|
||||
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
|
|
1
|
8.5
|
6.3
|
8.5
|
7
|
5
|
8.5
|
|
2
|
9.5
|
9.3
|
9.5
|
12
|
7
|
9.5
|
|
3
|
9.5
|
9.5
|
8
|
7
|
7
|
8
|
|
4
|
9
|
8.5
|
7
|
7
|
7
|
7
|
|
5
|
8.7
|
7
|
9
|
4
|
7
|
9
|
|
6
|
10
|
7.5
|
10
|
7
|
7
|
10
|
|
7
|
11
|
7.5
|
9
|
7
|
6
|
9
|
|
8
|
10
|
8.2
|
10
|
7
|
7
|
10
|
|
9
|
7.2
|
9.8
|
9
|
3
|
7
|
9
|
|
10
|
12
|
7
|
11
|
7
|
5
|
11
|
|
Rata-rata
|
9.54
|
8.06
|
9.1
|
6.8
|
6.7
|
7.3
|
Pengamatan
: 21
hst
Tanggal
pengamatan : 20/11/2015
|
Tanaman
|
Tinggi Tanaman
|
Jumlah Daun
|
||||
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
|
|
1
|
9.5
|
6.3
|
9.5
|
8
|
3
|
7
|
|
2
|
9.3
|
9.3
|
10
|
8
|
7
|
11
|
|
3
|
7
|
10
|
9.5
|
2
|
9
|
2
|
|
4
|
11
|
7.5
|
11.5
|
11
|
5
|
10
|
|
5
|
9
|
9
|
8.2
|
2
|
10
|
5
|
|
6
|
12.5
|
6.5
|
11
|
11
|
8
|
8
|
|
7
|
11
|
7.5
|
10
|
11
|
8
|
8
|
|
8
|
12
|
8.5
|
9.3
|
11
|
8
|
8
|
|
9
|
7.5
|
9.5
|
8
|
2
|
8
|
3
|
|
10
|
9.5
|
7
|
9
|
8
|
8
|
1
|
|
Rata-rata
|
9.83
|
8.11
|
9.6
|
7.4
|
7.4
|
6.3
|
Pengamatan
: 28
hst
Tanggal
pengamatan : 27/11/2015
|
Tanaman
|
Tinggi Tanaman
|
Jumlah Daun
|
||||
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
|
|
1
|
12.8
|
9
|
11
|
15
|
4
|
20
|
|
2
|
8.6
|
6.4
|
12.7
|
7
|
5
|
12
|
|
3
|
10.3
|
12.1
|
10.2
|
5
|
21
|
17
|
|
4
|
15
|
8.7
|
13.6
|
20
|
10
|
14
|
|
5
|
14
|
9
|
11.3
|
13
|
10
|
14
|
|
6
|
17
|
6.6
|
12
|
17
|
11
|
14
|
|
7
|
13.8
|
8.7
|
9.6
|
14
|
6
|
10
|
|
8
|
12
|
14.6
|
12.8
|
11
|
17
|
14
|
|
9
|
7.5
|
9.4
|
6
|
2
|
8
|
7
|
|
10
|
13
|
6.3
|
9
|
14
|
9
|
13
|
|
Rata-rata
|
12.4
|
9.08
|
10.82
|
11.8
|
10.1
|
13.5
|
Pengamatan
: 35
hst
Tanggal
pengamatan : 04/12/2015
|
Tanaman
|
Tinggi Tanaman
|
Jumlah Daun
|
||||
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
|
|
1
|
17
|
19
|
19
|
38
|
14
|
30
|
|
2
|
15
|
14
|
19.5
|
10
|
17
|
27
|
|
3
|
14
|
13
|
14
|
16
|
26
|
23
|
|
4
|
19
|
14
|
16
|
30
|
16
|
27
|
|
5
|
15
|
20
|
16
|
11
|
14
|
17
|
|
6
|
17
|
18
|
18.4
|
17
|
21
|
36
|
|
7
|
23
|
13
|
16
|
28
|
15
|
25
|
|
8
|
18
|
15
|
13.2
|
26
|
14
|
10
|
|
9
|
13
|
22
|
15.5
|
14
|
27
|
31
|
|
10
|
20
|
8.5
|
13
|
23
|
11
|
12
|
|
Rata-rata
|
17.1
|
15.65
|
16.06
|
21.3
|
17.5
|
23.8
|
Pengamatan
: 42
hst
Tanggal
pengamatan : 11/12/2015
|
Tanaman
|
Tinggi Tanaman
|
Jumlah Daun
|
||||
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
|
|
1
|
25
|
20
|
19
|
19
|
19
|
37
|
|
2
|
20
|
21
|
20
|
12
|
22
|
42
|
|
3
|
21
|
18
|
21
|
16
|
23
|
31
|
|
4
|
19
|
29
|
19.5
|
16
|
20
|
36
|
|
5
|
13
|
30
|
16.5
|
17
|
26
|
28
|
|
6
|
22
|
18
|
19
|
14
|
21
|
47
|
|
7
|
23
|
19
|
19.3
|
11
|
22
|
38
|
|
8
|
25
|
20
|
16
|
12
|
30
|
12
|
|
9
|
22
|
22
|
19.5
|
24
|
15
|
51
|
|
10
|
20
|
16
|
12
|
19
|
26
|
4
|
|
Rata-rata
|
21
|
21.3
|
18.18
|
16
|
22.4
|
32.6
|
Pengamatan
: 49
hst
Tanggal
pengamatan : 18/12/2015
|
Tanaman
|
Tinggi Tanaman
|
Jumlah Daun
|
||||
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
|
|
1
|
25
|
21
|
20
|
43
|
18
|
36
|
|
2
|
20
|
20
|
20
|
41
|
20
|
39
|
|
3
|
20
|
18
|
34
|
20
|
36
|
36
|
|
4
|
19
|
29
|
20
|
13
|
30
|
36
|
|
5
|
22
|
30
|
20
|
24
|
18
|
34
|
|
6
|
34
|
30
|
25
|
34
|
17
|
53
|
|
7
|
23
|
18
|
20
|
42
|
33
|
34
|
|
8
|
25
|
20
|
26
|
12
|
27
|
53
|
|
9
|
25
|
22
|
20
|
34
|
21
|
24
|
|
10
|
19
|
18
|
20
|
16
|
15
|
36
|
|
Rata-rata
|
23.2
|
22.6
|
22.5
|
27.9
|
23.5
|
38.1
|
Pengamatan
: 56
hst
Tanggal
pengamatan : 26 Des 2015
|
Tanaman
|
Tinggi Tanaman
|
Jumlah Daun
|
||||
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
|
|
1
|
25.5
|
21
|
20.5
|
44
|
21
|
30
|
|
2
|
21
|
20.5
|
20
|
41
|
19
|
39
|
|
3
|
20
|
19
|
34
|
20
|
36
|
39
|
|
4
|
19
|
29
|
20
|
13
|
30
|
36
|
|
5
|
22
|
30.5
|
20.3
|
24
|
18
|
34
|
|
6
|
34.2
|
30
|
25
|
34
|
20
|
56
|
|
7
|
23
|
18.5
|
20.2
|
42
|
33
|
34
|
|
8
|
25
|
20
|
26
|
14
|
27
|
53
|
|
9
|
25
|
22
|
20
|
34
|
21
|
29
|
|
10
|
20
|
19
|
20
|
16
|
18
|
36
|
|
Rata-rata
|
23.47
|
22.95
|
22.6
|
28.2
|
24.3
|
38.6
|
|
Tanaman
|
Jumlah Polong
|
||
|
Bedengan
1
|
Bedengan
2
|
Bedengan
3
|
|
|
1
|
3
|
6
|
13
|
|
2
|
32
|
12
|
25
|
|
3
|
21
|
11
|
35
|
|
4
|
11
|
6
|
19
|
|
5
|
21
|
8
|
26
|
|
6
|
16
|
22
|
9
|
|
7
|
44
|
18
|
32
|
|
8
|
28
|
11
|
18
|
|
9
|
25
|
33
|
9
|
|
10
|
17
|
10
|
37
|
|
Rata-rata
|
21.8
|
13.7
|
22.3
|
b. Pembahasan
Dari
hasil praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil bahwa pada tanaman kedelai mengalami pertumbuhan yang cukup cepat karena tanaman
kedelai termasuk tanaman berumur pendek, dalam
penanaman kedelai kendala yang dialami hanya pada
serangan hama dan
gulma yang mengganggu lahan
tanam. Lahan tanam yang digunakan dibuat seperti bedengan,
Pengamatan yang
dilakukan hanya pada tinggi tanaman
dan jumlah daun sejak mulai tanam, Dari
hasil praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil bahwa pada tanaman kedelai tinggi tanaman yang
paling tinggi reratanya, terdapat
pada sampel bedengan ke III pengamatan
28 Hst yaitu
reratanya 12.4
cm ke 17.1 cm 35 Hst jarak meningkatnya tinggi tanaman tersebut
adalah 5 cm dan yang
paling rendahnya peningkatan tinggi tanaman kedelai terdapat pada bedengan ke
III pengamatan 49 Hst dengan rerata 22.5 cm ke 22.6 cm 56 Hst dengan jarak
peningkatan 0.1.
Pada pengamatan daun kedelai rerata total jumlah daun yang paling meningkat adalah
bedengan ke III pada pengamatan 28 Hst rerata 13.5 ke 23.8 35 Hst dengan
peningkatan jumlah sekitar 10 daun helai kedelai. Namun terjadi penurunan
jumlah daun pada bedengan ke I 35 Hst rerata 21.3 dengan penurunan total 5
jumlah daun yaitu 16 42 Hst .
Kemudian
penghitungan jumlah total dalam pruduksi polong rerata kedelai terbanyak
terdapat pada bedengan ke III dengan jumlah total rata-rata 22.3 dan yang
paling rendah terdapat pada bedengan ke II jumlah reratanya 13.7.
Dengan
beberapa pengamatan praktikum teknologi pupuk dan pemupukan bahwasanya
meningkat dan menurunnya tinggi, jumlah daun dan hasil kedelai itu ditentukan
atas berbagai faktor diantaranya :
1. Tanah
Olah
tanah yang merupakan media pendukung pertumbuhan akar. Artinya, semakin dalam
olah tanahnya maka akan tersedia ruang untuk pertumbuhan akar yang lebih bebas
sehingga akar tunggang yang terbentuk semakin kokoh dan dalam.
2. Iklim
Untuk mencapai pertumbuhan tanaman
yang optimal, tanaman kedelai memerlukan kondisi lingkungan tumbuh yang optimal
pula. Tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan faktor lingkungan tumbuh,
khususnya tanah dan iklim
3. Suhu
Tanaman kedelai dapat tumbuh pada
kondisi suhu yang beragam. Panjang hari (photoperiode)
Tanaman kedelai sangat peka terhadap
perubahan panjang hari atau lama penyinaran sinar matahari karena kedelai
termasuk tanaman “hari pendek”. Artinya, tanaman kedelai tidak akan berbunga
bila panjang hari melebihi batas kritis, yaitu 15 jam perhari
Distribusi curah hujan hal yang
terpenting pada aspek distribusi curah hujan yaitu jumlahnya merata sehingga
kebutuhan air pada tanaman kedelai dapat terpenuhi. Jumlah air yang digunakan
oleh tanaman kedelai tergantung pada kondisi iklim, sistem pengelolaan tanaman,
dan lama periode tumbuh. Namun demikian, pada umumnya kebutuhan air pada
tanaman kedelai berkisar 350 – 450 mm selama masa pertumbuhan kedelai. Pada
saat perkecambahan, faktor air menjadi sangat penting karena akan berpengaruh
pada proses pertumbuhan. Kebutuhan air semakin bertambah seiring dengan
bertambahnya umur tanaman. Kebutuhan air paling tinggi terjadi pada saat masa
berbunga dan pengisian polong.
Kondisi kekeringan menjadi sangat kritis
pada saat tanaman kedelai berada pada stadia perkecambahan dan pembentukan
polong. Untuk mencegah terjadinya kekeringan pada tanaman kedelai, khususnya
pada stadia berbunga dan pembentukan polong, dilakukan dengan waktu tanam yang
tepat, yaitu saat kelembaban tanah sudah memadai untuk perkecambahan. Selain
itu, juga harus didasarkan pada pola distribusi curah hujan yang terjadi di
daerah tersebut
V.
KESIMPULAN
DAN SARAN
a.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan
yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa Tanaman kedelai setiap
minggunya mengalami kenaikan pertumbuhan, namun pertumbuhannya lambat dan
kenaikannya tidak terlalu tinggi.
Terdapat
beberapa faktor yang berpengaruh dalam kematian tanaman kedelai:
1. Tanah yang
kurang di olah
2. Banyaknya
gulma tidak di buang
3. Suhu iklim
yang tidak beraturan
4.
Hama menyerang yang tidak keliatan secara kasat mata sehingga
kesulitan untuk mebasminya
5. Pupuk yang
tidak mewadai
6. Curah hujan
tidak maksimal
b.
Saran
Untuk
melakukan praktikum tanaman kedelai perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat
menghambat dalam produksi tanaman kedelai seperti lingkungan, cara budidaya dan
lain-lain serta memperhatikan dosis pupuk yang akan diberikan sehingga
pemberian pupuk lebih efisien digunakan tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Agroudy,
dkk. 2011. An economic study of the
production of soybean in Egypt. Agriculture
And Biology (2): 221-225.
Budhi dan Amiah. 2010. Swasembada
Kedelai Antara Harapan Dan Kenyataan. Agro
Ekonomi 28(1) : 55 – 68.
Chianu, dkk. 2009. Promoting a Versatile but yet Minor Crop
Soybean in the Farming Systems of Kenya.
Sustainable Development in Africa 10(4) : 324 – 344.
Fachruddin. 2000. Budidaya
Kacang Kacangan. Kanisius. Yogyakarta.
Lingga dan Marsono. 2008. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Liu,
Mingming. 2010. An
Analysis on Total Factor Productivity and Influencing Factors of Soybean in
China. Agricultural Science 2(2) :
158 – 163.
Pitojo,
S. 2003. Seri Penangkaran Benih kedelai.
Kanisius. Yogyakarta.
LAMPIRAN
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
|
|
|
|
|
|
![]() |
||||||||||
![]() |
||||||||||
![]() |
||||||||||
![]() |
||||||||||
![]() |
||||||||||
![]() |
||||||||||
|
|
|
|
|
|












Tidak ada komentar:
Posting Komentar