LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR AGRONOMI
“Tanaman Kacang Hijau Vigna
radiata L (Vima)”
Dosen Ir. Edyson Indawan, MP
SEMESTER GANJIL 2015/2016
KELOMPOK 3 (Tiga)
NURUL SHOLEHUDDIN 2014330069
MUMHAMMAD RODLI 2014330064
KHAIRUDDIN 2014330034
KUNI MALYATAN MUKMINAH 2014330048
MEKAEL ROBERTOS MALO 2014330061
MELFINSINSIUS H PATI 2014330060
PAULUS 2014330059
MUNAWIR GHAZALI 2014330065
PRIMUS ADRIANUS LEDA 2014330075
OKTAVIANUS DONA 2014330071
MATEUS LERE RANGGA 2014330049
LAZARUS BOLIKOLIN 2014330075
PRODI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG - JAWA TIMUR
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Dari sebuah makhluk hidup salah satunya
adalah tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai pengertian
yang berbeda. Namun, proses pertumbuhan dan
perkembangan berlangsung secara beriringan dan saling berkaitan. Sinar
matahari memang berguna bagi fotosintesis pada tumbuhan. Namun, efek lain dari
sinar matahari ini adalah menekan pertumbuhan sel tumbuhan. Hal ini menyebabkan
tumbuhan yang ditempat cahaya matahari akan lebih pendek dari pada tumbuhan
yang tumbuh di tempat gelap. Peristiwa ini disebut dengan Etiolasi. Dampak
tanaman akibat etiolasi adalah tanaman tidak dapat melakukan proses fotosintesis.
Padahal proses fotosintesis bertujuan untuk menghasilkan karbohidrat yang
berperan penting dalam pembentukan klorofil. Karena karbohidrat tidak
terbentuk, daun pun tanpa klorofil sehingga daun tidak berwarna hijau,
melainkan kuning pucat.
Kondisi gelap juga memacu produksi hormon auksin. Auksin adalah hormon tumbuh
yang banyak ditemukan di sel-sel meristem, seperti ujung akar dan ujung batang.
Oleh karena itu, tanaman akan lebih cepat tumbuh. Produksi
auksin akan terhambat pada tanaman yang sering terkena sinar matahari.
Itulah sebabnya, pertumbuhan tanaman etiolasi selalu lebih cepat, tapi batang
tidak tegar karena mengandung banyak air. Akibat tidak ada sinar matahari maka
organ perbanyakan pada tanaman lama-lama mengkerut lalu mati karena tidak
mendapat sumber makanan.
Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh cahaya pada pertumbuhan itulah
dilakukan percobaan, yaitu dengan memberi perlakuan variasi cahaya matahari
yang berbeda pada tanaman kacang hijau yang diantaranya yaitu pada tiga tempat
antara lain gelap, terang dan lembab.
1.2.
Tujuan
Untuk membandingkan pertumbuhan batang
kacang hijau di tiga tempat yang berbeda (tempat gelap, tempat terang dan
tempat lembab).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Deskripsi Tanaman
Tanaman Kacang hijau ( Vigna
radiata L ) Merupakan salah satu jenis tanaman kacang-kacangan yang masi
berfamili dengan leguminasae yaitu kacang tanah atau kacang-kacangan
lainnya. Tanaman ini sudah banyak di kenal masyarakat indonesia yang menyebar
luas keberbagai daerah terpencil. Tanaman ini diduga berasal dari kawasan
india.
Klasifikasi kacang hijau
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Kelas
: magnoliophyta
Ordo
: Rosales
Famili
: leguminasae
Genus
: vigna
Spesies
: Vigna radiata L.
Morfologi Kacang hijau
ü Batang
Tanaman kacang hijau memiliki batang
berbatang tegak dengan tinggi mencapai 53 cm. Cabang menyamping pada batang
utama, berbentuk bulat dan berbulu. Memiliki warna batang dan cabang hijau dan
bila sudah tua batang berubah menjadi kecoklatan.
ü Daun
Tanaman kacang hijau memiliki daun
tiga helai dan memiliki letak berseling, tangkai dauan yang cukup panjang.
Tanaman ini memiliki daun berwarna hijau dan kekuningan jika sudah layu atau
mau gugur.
ü Bunga
Tanaman kacang hijau memiliki bunga
berwarna kuning yang akan muncul 28 – 33 hari, tersusun, dalam tandan, dan
muncul pada batang. Pada tanaman ini terjadinya bunga terjadinya penyerbukaan
sendiri.
ü Polong atau kacang
Tanaman kacang hijau memiliki polong berbentuk
selindris dengan panjang 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Pada waktu
mudah warna polong berwarna hijau, namun jika suda tua berwarna kehitaman atau
coklat. Satu plog berisi 10-15 biji.
ü Biji
Tanaman kacang
hijau memiliki kacang lebih kecil di banding dengan kacang lainnya. Warna
kacang hijau kebanyakan berwarna hijau atau hijau mengkilat.dan ada juga
berearna kuning, coklat dan hitam
2.2.
Makna dan arti
Biji kacang hijau Vima-1 (Vigna sinensis – Malang) kulit
bijinya lunak, daging biji cepat empuk ketika direbus, dan tekstur bijinya
sesuai dengan preferensi pengusaha makanan (bubur kacang hijau, bakpia, dan
onde-onde).
Keunggulannya potensi hasil tinggi 1,76 t/ha, umur genjah 57
hari, dan tahan penyakit embun tepung, biji mudah dipelihara dan dipanen,
kandungan protein tinggi 28,0%, lemak rendah 0,4 %, dan pati tinggi 67,6 %.
Kehadiran varietas Vima 1 ini dapat sebagai alternatif
petani dalam memilih benih unggul kacang hijau. Prospektif dikembangkan oleh
industri benih tanaman pangan.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1.
Tempat dan waktu
a)
Tempat
pelaksanaan
Pelaksanaan
praktikum ini dilakukan dirumah/ kontraan
b)
Waktu
pelaksanaan
Rabu
, 11 November 2015
3.2.
Bahan dan alat
Adapun bahan dan alat yang digunakan
antara lain :
1)
Cup
2)
Kapas
3)
Biji kecambah varietas
(Vima 1)
3.3.
Cara kerja
Adapun
cara kerja dari pelaksanaan praktikum kali ini yaitu :
Mempersiapkan
bahan dan alat yang dibutuhkan seperti cup 3 buah, kapas, dan 5 biji kacang
hijau, kemudian dari masing-masing cup diisi kapas dan diberi air secukupnya,
setelah itu dari masing-masing cup diisi 5 biji kacang hijau. kemudian cup
diditaruk pada tiga tempat antara lain : tempat terang, tempat gelap dan tempat
sejuk kemudian disimpan selama 1 minggu.
3.4.
Parameter pengamatan
Hal-hal yang diamati dari praktikum ini
:
1)
Mengukur tinggi
tanaman
2)
Penyesuian
tempat antara : Terang, gelap dan sejuk.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil
|
No
|
Tempat
|
Presentase tumbuh
|
No
|
5 Biji kacang hijau
|
||
|
1
|
Terang
|
100%
|
Jumlah daun (Helai)
|
Pajang ke atas (cm)
|
Panjang ke bawah (cm)
|
|
|
1
|
2
|
3.4
|
6.1
|
|||
|
2
|
2
|
3.3
|
5
|
|||
|
3
|
2
|
3.5
|
4.8
|
|||
|
4
|
2
|
3.9
|
5.4
|
|||
|
5
|
2
|
3
|
5.1
|
|||
|
RT
|
2
|
3.42
|
5.28
|
|||
|
2
|
Gelap
|
80%
|
1
|
2
|
16.1
|
14
|
|
2
|
2
|
9
|
13.5
|
|||
|
3
|
2
|
Tidak ada
|
10.5
|
|||
|
4
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
1
|
|||
|
5
|
Mati
|
Mati
|
Mati
|
|||
|
RT
|
2
|
12.55
|
9.75
|
|||
|
3
|
Sejuk
|
100%
|
1
|
2
|
16
|
13
|
|
2
|
2
|
12.5
|
13
|
|||
|
3
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
2
|
|||
|
4
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
0.5
|
|||
|
5
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
0.5
|
|||
|
RT
|
2
|
14.25
|
5.8
|
|||
4.2.
Pembahasan
Pertumbuhan
adalah suatu pertambahan ukuran yang bersifat irreversible karena bersifat multi sel maka pertumbuhan bukan saja
dalam volume tetapi juga pertambahan dalam hal bobot, jumlah sel, banyaknya
protoplasma, dan tinggkat kerumitan. Sedangkan perkembangan merupakan suatu
perubahan yang teratur dan berkembang umumnya menuju keadaan yang lebih tinggi,
lebih teratur dan lebih kompleks atau proses menuju kedewasaan.
Percobaan ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh cahaya terhadap perkembangan kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus dalam gelap dan
terang Percobaan ini menggunakan bahan biji kacang hijau Phaseolus radiatus sebanyak 5 biji. Dalam mengamati pertumbuhanya,
proses pertama yaitu melakukan perendaman biji dalam cup selama beberapa menit.
Perendaman ini bertujuan untuk mengetahui kualitas biji yang baik yang ditandai
dengan adanya biji yang tenggelam dan juga untuk menonaktifkan masa dormansi
biji. Setelah perendaman, kemudian menyiapkan media tumbuh yaitu 3 cup yang
berisi kapas pada dasarnya yang telah dibasahi. Masing-masing 3 cup ditanam 5 biji dan ditandai menggunakan
kertas label. Cup I diletakkan pada tempat yang gelap, Cup II ditempatkan pada
terang dan cup III ditempatkan pada tempat sejuk, Pengamatan ini berlangsung
selama 1 minggu.
Hasil pengamatan pada kecambah
kacang hijau Phaseolus radiatus yaitu
pada daerah terang, pertumbuhan biji sangat baik memiliki kondisi daun yang
hijau, batang kokoh, dan tumbuh subur. Rata-rata panjang batang dari daun ke atas
yaitu 3,4 cm dan panjang batang dari daun ke bawah 5,28 cm dengan jumlah
daun 2 helai, sedangkan presentase tumbuh yaitu 100%.
Pada cup yang diletakkan pada daerah gelap dan sejukhampir sama,
pertumbuhan kacang hijau Phaseolus
radiatus mengalami pertumbuhan yang cepat. Rata-rata panjang batang
dari daun ke atas yaitu 12,55 cm dan panjang batang dari daun
ke bawah 9,75 cm dengan jumlah daun 2 helai, sedangkan presentase tumbuh yaitu
80% karena dimakan serangga untuk tempat gelap. Sedangkan untuk yang tempat
sejuk Rata-rata panjang batang dari daun
ke atas yaitu 14,25 cm dan
panjang batang dari daun ke bawah 5,8 cm dengan jumlah daun 2 helai, sedangkan
presentase tumbuh yaitu 100%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
kecepatan pertumbuhan adalah faktor internal seperti hormon dan eksternal
misalnya air dan cahaya matahari. Dari hasil pengamatan, pada tanaman yang
diletakkan ditempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu
tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan,
penyebabnya yaitu karena daun tidak dapat memproduksi klorofil sehingga tidak
terjadi proses fotosintesis. Hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin
tidak dihambat oleh sinar matahari. Sedangkan untuk tanaman yang diletakkan
ditempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan
dengan tanaman yang diletakkan ditempat gelap, tetapi tekstur batangnya sangat
kuat dan juga warnanya segar kehijauan. Hal ini disebabkan karena kerja hormon
auksin dihambat oleh sinar matahari dan cahaya matahari meningkatkan proses
asimilasi yang terjadi pada daun kacang hijau Phaseolus radiatus.
Pada
percobaan ini, perbedaan panjang batang
pada kecambah tempat gelap dan
terang yaitu kecambah tempat terang
rata-rata pertambahan panjang batang cukup rendah karena hormon auksin
yang berperan dalam proses pemanjangan sel dihambat oleh cahaya matahari
langsung, dibandingkan kecambah tempat gelap yang memiliki rata-rata
pertambahan panjang yang cukup tinggi, hal disebabkan oleh hormon auksin yang
bekerja efektif pada tempat gelap karena tidak dihambat oleh cahaya matahari.
Sedangkan pada pertambahan panjang daun, kecambah di tempat terang memiliki
rata-rata pertambahan panjang daun yang cukup tinggi dibandingkan dengan pada
tempat gelap, hal ini disebabkan daun pada tempat terang cenderung menerima
cahaya matahari maksimal untuk proses asimilasinya sehingga memicu jumlah
klorofil yang tinggi dan akan mempengaruhi luas bidang daun, sedangkan pada
daun di tempat gelap tidak terjadi proses asimilasi karena daunya tidak
mengandung klorofil (etiolasi) disebabkan tidak mendapatkan cahaya matahari yang
cukup.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan yaitu sebagai
berikut. Tumbuhan dalam hal percobaan kali ini adalah kacang hijau yang di
daerah sejuk dan gelap tumbuh lebih
optimal dan cepat karena peristiwa etiolasi dan tidak terurainya hormon auksin,
sehingga akan terus memacu pertumbuhan batang kacang hijau. Meskipun tanaman
kacang hijau ini tumbuh lebih tinggi, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang
kurang baik, batang terlihat kurus tidak sehat, warna batang dan daun pucat
serta kekurangan klorofil sehingga daun terlihat pucat.
Tanaman kacang hijau yang diletakkan di tempat terang tumbuh lebih pendek
karena hormon auksin ini akan terurai dan terhambat karena terkena cahaya dan
rusak sehingga laju pertambahan tinggi tanaman tidak terlalu cepat. Meskipun
tanaman kacang hijau ini tumbuh lebih pendek, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang sehat, subur, batang
terlihat gemuk, daun terlihat segar dan berwarna hijau serta memiliki cukup
klorofil begitu juga halnya dengan kacang hijau yang diletakkan ditempat sejuk
dan gelap, yang menjadi perbedaan adalah bengkoknya tanaman yang mengikuti arah
datangnya cahaya matahari.
5.2.
Saran
·
Dalam melakukan suatu percobaan, lebih
baik melakukan percobaan di tempat yang sekiranya tidak ada sesuatu yang
mengganggu seperti hama tanaman, hewan, sehingga percobaan akan aman dan
berhasil.
·
Dalam mengukur tinggi kecambah, harus
dilakukan secara teliti.
·
Dalam melakukan percobaan, hendaknya
memperhatikan kualitas kacang hijau yang akan ditanam dan memperhatikan kondisi
lingkungan yang sesuai dengan apa yang ingin diteliti sehingga hasil percobaan
itu baik dan valid.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell,
N.A., Jane B. R. dan Lawrence G. M. 2002. Biologi Jilid 2.
Erlangga. Jakarta.
Dwidjoseputro,
D. 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Jumadi.
2008. Pengkajian Teknologi Pengolahan
Tortila Jagung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen
Pertanian. Vol (2):73-74. (Diakses pada
tanggal 27 Desember 2015, pukul 10:00 WIB).
Latunra, A.I.
2014. Penuntun Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan II.
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Perwitasari,
B., Mustika T., dan Catur W. 2012. Pengaruh Media Tanam dan Nutrisi Terhadap Pertumbuhan dan hasil Tanaman
Pakchoi (Brassica Juncea L.) dengan Sistem Hidroponik. Vol (1):14-25. (Diakses pada tanggal 27 Desember 2015, pukul 10:10
WIB).
Salisbury,
F.B. dan Cleon W. 1995. Fisiologi
Tumbuhan Jilid 2. ITB Press. Bandung.
Sitompul,
S.M. 1995. Analisis Pertumbuhan
Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Srikini, Suharno, dkk. 2006. BIOLOGI untuk SMA Kelas XII.
Jakarta. Penerbit Erlangga
Diah, Ayulina, dkk. 2011. BIOLOGY 3A for Senior High School Grade II
Semester 1. Jakarta. Esis
Lampiran
|
TAMPAT GELAP
|
|
TAMPAT SEJUK
|
PSA: sunscreen with zinc oxide and titanium dioxide
BalasHapusof sunscreen titanium bar stock with zinc oxide and titanium dioxide. of sunscreen with zinc oxide titanium jewelry for piercings and titanium titanium nitride bolt carrier group dioxide. The PSA-SMC-16-T-SZ-1-2 (PDN-4-N-V-1) titanium scooter bars is a non-GMO-based sunscreen with zinc oxide (PDN4-N-V1) citizen super titanium armor (PDN-4-N-VA-1) made by