LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR AGRONOMI
“Mencangkok Tanaman Kakao, Puring
Mini, dan Jambu Biji”
Dosen Ir. Edyson Indawan, MP
SEMESTER GANJIL 2015/2016
KELOMPOK 3 (Tiga)
NURUL SHOLEHUDDIN 2014330069
MUMHAMMAD RODLI 2014330064
KHAIRUDDIN 2014330034
KUNI MALYATAN MUKMINAH 2014330048
MEKAEL ROBERTOS MALO 2014330061
MELFINSINSIUS H PATI 2014330060
PAULUS 2014330059
MUNAWIR GHAZALI 2014330065
PRIMUS ADRIANUS LEDA 2014330075
OKTAVIANUS DONA 2014330071
MATEUS LERE RANGGA 2014330049
LAZARUS BOLIKOLIN 2014330075
PRODI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG - JAWA TIMUR
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
kehidupan sehari-hari tanaman melakukan beberapa aktivitas yang berguna dalam
rangka mempertahankan hidup, seperti bernapas, berfotosintesis, respirasi, dan
berkembang biak. Awal perkembangbiakan umumnya ditandai dengan perkecambahan.
Dan tentunya di dalamnya terdapat struktur yang cukup rumit. Perkembangbiakan
pada setiap tanaman tidaklah sama. Ada beberapa spesies tanaman yang
berkembangbiak dengan cara generatif dan ada juga yang berkembangbiak dengan
cara vegetatif.
Berbagai
jenis tanaman sama sama berkembang biak , tapi tanaman berkembang biak dengan
cara yang berbeda beda. Perbanyakan tanaman juga memiliki beberapa jenis cara,
diantaranya adalah perbanyakan segara genetatif maupun vegetatif.
Mencangkok
adalah suatu cara mengembangbiakkan tumbuhan dengan jalan menguliti batang yang
ada lalu bungkus dengan tanah agar akarnya tumbuh. Jika akar sudah muncul akar
yang kokoh, maka batang tersebut sudah bisa dipotong dan ditanam di tempat
lain, mencangkok juga dapat diartikan suatu perbanyakan vegetatif secara buatan
tanpa baikan dengan menggunakan bagian dari tanaman.
Perkembangbiakan baik secara vegetatif sebagian
besar berasal dari salah satu bagian tanaman, misalnyaberasal dari batang,
akar, daun, dan lain-lain, atau bisa juga disebut bibit. Sedangkan
perkembangbiakan secara generatif umumnya berasal dari biji. Pada kenyataannya
kita dapat membedakan antara bibit dan benih yang keduanya digunakan dalam
proses pembiakan tanaman.
Kegiatan perbanyakan tanaman dengan mencangkok
merupakan kegiatan yang biasa dilakukan di nursery tanaman
buah. Tanaman induk yang akan dicangkok
dipilih karena karakternya yang diinginkan. Tanaman induk diusahakan
setelah dicangkok tidak mati sehingga dapat berkembang kembali dan menjadi
tanaman induk untuk dicangkok di kemudian hari lainnya.
Kaitannya terhadap praktikum kegiatan ini yang
dilakukan dengan menggunaka indicator tanaman sri rejeki memberikan
pambalajaran dan pengetahuan di bidang perbanyakan tanaman.
1.2 Tujuan
1.
Untuk mengetahui dan mempelajari cara mencangkok, dan untuk mengetahui
pertumbuhan akar cangkok.
2.
Untuk mengetahui pengaruh
media cangkokan terhadap pembentukan sistem perakaran.
3.
Mengetahui secara
langsung cara mencangkok tanaman.
1.3 Manfaat
1. Dapat mengetahui dan mempelajari cara mencangkok, dan untuk mengetahui
pertumbuhan akar cangkok.
2.
Dapat mengetahui pengaruh
media cangkokan terhadap pembentukan sistem perakaran
3. Dapat
mengetahui secara langsung cara mencangkok tanaman.
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Mencangkok
adalah cara memperbanyak tanaman dimana pembentukan akar pada calon tanaman
baru terjadi ketika masih melekat pada tanaman induknya. Air dan mineral tetap
diangkut melalui xylem ke tunas / cabang yang dicangkok. Dengan demikian, hasil
perbanyakan dengan cara mencangkok lebih tinggi daripada hasil
perbanyakan denga stek. Ada 2 macam cara mencangkok yang sering dilakukan pada
tanaman tertentu (Ismiyati Sutarto,1994).
Merundukkan
batang / cabang ke tanah . Pembentukan akar di rangsang dengan berbagai perlkuan
yang dapat menghentikan tranlokasi bahan organic seperti karbohidrat, auxin dan
faktor pertumbuhan yang lan dari dan ujung tunas ke bagian bawah tunas yang di
cangkok (Ismiyati Sutarto).
Mencangkok
tanaman adalah salah satu cara teknik memperbanyak tanaman buah dalam pot,
selain itu kualitas buahnya sama dengan induknya dan juga pohonnya tidak
terlalu tinggi. Tanaman yang bisa dicangkok antara lain: jambu, jambu air, mangga, sawo, dan lain-lain (Wilkins, 1991).
Mencangkok
atau okulasi adalah teknik pengembangbiakan tanaman yg sangat cocok utk di
tanam di dalam pot. Di samping karena qualitas buahnya terjaga sama spt
induknya juga nantinya pohon tumbuh tidak terlalu tinggi. Pohon yg
dikembangbiakan dg teknik cangkok tidak akan mempunyai akar tunggang.(Ansown,
1989).
Beberapa
tanaman tertentu memilki kemampua untuk memperanyak diri dengan pencangkokan
yang terjadi secara alami, yaitu sulur dan anakan terutama pad tanaman yang
berbentuk roset (Wahyuni, Sri, 1998).
Pembentukan
biji melalui proses penyerbukan (jatuhnya tepung sari pada kepala putik)
kemudian dilanjutkan dengan pembuahan (peleburan antara gamet jantan dari
tepung sari dan gamet betina dari putik). Dalam kontek agronomi, benih sebagai
bahan tanaman merupakan biji yang diproduksi, diproses, dan diuji dengan metode
standar sehingga memenuhi persyaratan sebgai bahan tanaman (Kusbiantoro, 1993).
Cabang pilihan yang akan dicangkok dikelupas
kulit cabangnya kirakira 7 cm. Kambium pada cabang dikerik hingga bersih sampai
bagian yang dikerik tidak lagi terasa licin tapi kasar. Pengelupasan kulit
cabang ini dimaksudkan untuk memutus aliran hara dari batang ke cabang sehingga
akar dapat terbentuk pada cabang yang dicangkok. Kemudian pada ujung potongan
kulit cabang atas, pasta Rooton F dioleskan. Pengolesan tersebut dimaksudkan
untuk mendorong pertumbuhan akar. (Wahid,
2000).
BAB 3 METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Kegiatan praktikum pembiakan vegetatif dengan cara mencangkok (air layerage)
dilaksanakan di lab Universitas Tribhuwana Tunggadewi pada tanggal 11 Desember 2015, pukul14.00 WIB.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Tali rafia warna hijau.
2. Sabut kelapa.
3. Plastik.
4. Pisau tajam (cutter).
3.2.1 Bahan
1.
Tanaman kakao,
2.
tanaman jambu biji,
3.
tanaman puring (Codiatum
variegatum).
4.
pupuk kompos atau pupuk kandang.
5.
Tanah.
3.3 Cara Kerja Pengamatan
1.
Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan.
2.
Memilih batang atau cabang
yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.
3.
Menyayat/menghilangkan kulit
dan kambium pada batang atau cabang tersebut sepanjang +
10 cm.
4.
Setelah kita kupas
kulitnya,kita biarkan saja selama 4 hari untuk kita tunggu lendir kambium
tersebut kering.
5.
Memberi media pada bagian yang
luka secukupnya dengan pupuk kandang dan kompos, kemudian ditutup dengan
serabut kelapa dan plastik.
6.
Menjaga kelembapan media
dengan cara menyiram air.
7.
Perbadingan tanah dan kompos adalah
1: 3.
3.4 Parameter
Pengamatan
1.
Mengamati
tumbuhnya akar
2.
Pengaruh
media tanam ketanaman yang dicangkok
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Tabel
pengamatan cangkok tanaman
|
No
|
Tanaman
|
Media Cangkok
|
Perakaran
|
|
|
Tumbuh
|
Tidak Tumbuh
|
|||
|
1
|
Kakao
|
Plastik
|
|
|
|
2
|
Puring
Mini
|
Sabut Kelapa
|
|
|
|
3
|
Jambu
Biji
|
Plastik
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.2
Pembahasan
1)
Tanaman kakao (Theobroma
cacao L)
merupakan
salah satu tanaman perkebunan yang dikembangluaskan dalam rangka peningkatan
sumber devisa negara dari sektor nonmigas. Tanaman kakao tersebut merupakan
salah satu anggota genus Theobrama dari familia Sterculaieeae yang banyak
dibudidayakan, yang secara sistematika mempunyai urutan taksa sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Ordo
: Malvales
Familia
: Sterculiaceae
Genus
: Theobroma
Spesies
: Theobroma cacao L.
Berdasarkan hasil
pengamatan dapat diketahui bahwa pada masing-masing Tanaman kakao, tanaman
puring mini dan tanaman jambu biji tingkat keberhasilannya tidak sama.
Pada tanaman kakao
pencangkokan tidak berhasil karena pencangkokan sebuah tanaman yang memiliki diameter kurang dari 3 mm,bisa
kita pastikan,akan gagal total dalam kita mencangkok tersebut,sebab batang
tanaman tersebut masih terlalu mudah untuk kita lakukan pencangkokan.
Mengapa batang yang
masih mudah sering mengalami kegagalan??banyak faktor serta penyebabnya,yang
paling utama,batang yang masih mudah masih sangat minim untuk menyimpan
cadangan makananya.dengan demikian bisa kita pastian keberhasilan jauh dari
angan-angan kita.Bagitupun jika menggunakan sebuah batang yang besar melebihi 5
cm.faktor penyebab kegagalan pada batang yang terlalu besar adalah sel pada
batang tanaman tersebut sudah kedaluarsa,terlalu tua untuk kita cangkok.cara
inipun juga jauh dari kata keberhasilan.
Kesalahan jika mencangkok sebuah tanaman,gunakan media tanah
yang bisa kita ambil dengan kedalam 40 cm dari permukaan.sebab tanah dengan
kedalam tersebut sedikit mengandung bahan organik serta terbebas dari
mikroogranisme sehingga tanah tersebut akan lebih steril.berikut ini penyebab
kegagalan dalam mencangkok tanaman kakao serta cara mengatasinya.
a)
Kecerobahan serta kurangnya
berhati-hati saat kita menguliti batang tanaman kakao yang akan kita cangkok tersebut ini bisa saja
akan merusak sebuah jaringan tapis pada tanaman tersebut.
b)
batang busuk,hal ini akibat media
yang kita gunakan terlalu basah.
Cara
Menaggulanginya.
·
Sebaiknya dalam kita menguliti
batang berhati-hati,jangan sampai merusak jaringan tapis batang tanaman
tersebut.
·
Lakukan penyiraman pada alat serta
media yang akan kita gunakan untuk mencangkok sebelum kita menampelkan pada
batang tanaman.
·
cari dan sebaiknya gunakan sebuah
media tanam untuk mencangkok yang memiliki cukup porous.
2) Puring mini (Codiaeum
variegatum), puring, atau kroton adalah tanaman
hias pekarangan populer berbentuk perdu dengan bentuk dan warna daun yang sangat bervariasi. Beragam kultivar telah dikembangkan dengan variasi warna dari
hijau, kuning, jingga, merah, ungu, serta campurannya. Bentuk daun pun
bermacam-macam: memanjang, oval, tepi bergelombang, helainya
"terputus-putus", dan sebagainya.
Secara
botani, puring adalah kerabat jauh singkong serta kastuba. Ciri
yang sama adalah batangnya menghasilkan lateks berwarna putih pekat dan
lengket, yang merupakan ciri khas suku Euphorbiaceae.
Puring
berasal dari Kepulauan Nusantara namun
kini telah tersebar di seluruh daerah tropika dan
subtropika, serta menjadi salah satu simbol turisme.
Nama latin : Codiaetum variegatum
Nama umum : Puring (Indonesia), Croton (English)
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom :
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Superdivisi :
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi :
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas :
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo :
Euphorbiales
Famili :
Euphorbiaceae
Genus :
Codiaeum
Spesies :
Codiaeum variegatum
Pada tanaman puring
mini ini pencangkokan cukup sedemikian berhasil, dengan beberapa faktor
keberhasilan diantaranya :
komposisi media yang digunakan,
dan balutan yang digunakan, menggambarkan hasil yang berbeda-beda. Dalam
perbandingan media dapat diketahui, bahwa media yang paling cocok untuk
digunakan dalam mencangkok adalah pupuk kandang, dibuktikan dengan jumlah dan
panjang akar yang selalu lebih besar dibandingkan pada komposisi media yang
lain, dalam satu jenis balutan yang sama (missal membandingkan hasil dari media
yang dibaluti sabut kelapa saja). Hal tersebut dikarenakan di dalam pupuk
kandang terdapat berbagai hara-hara kompleks yang sangat dibutuhkan tanaman
dalam pengambilan nutrisi yang kaitannya dengan pembentukan akar selain itu
pupuk kandang juga banyak mengandung mikroorganisme menguntungkan yang terdapat
dalam kotoran hewan yang merupakan bahan baku pembuatan pupuk kandang, untuk
tanaman juga media, yang bisa membantu pertumbuhan tanaman dan akar. Secara
garis besar jumlah dan panjang akar antara media yang dibalut dengan sabut
kelapa lebih banyak dan lebih panjang.
Hal ini bisa terjadi
karena faktor pembalut medianya, dalam mencangkok, bagian yang dicangkok selalu
membutuhkan kelembaban, antara sabut kelapa dan plastik, dalam penyimpanan
kelembaban air lebih bagus sabut kelapa, karena walaupun sabut kelapa berpori
juga bersifat meresap dan menahan rembesan air dan tahan lama.
3)
Jambu biji
Tumbuhan ini berbentuk pohon,
Batang jelas terlihat, berkayu (lignosus), silindris, permukaanya licin
dan terlihat lepasnya kerak (bagian kulit yang mati), batang berwarna coklat
muda, percabangan dikotom. Arah tumbuh cabang condong keatas dan ada pula yang
mendatar. Jambu biji memiliki cabang sirung pendek (virgula atau virgula
sucre scens) yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas-ruas yang pendek.
Klasifikasi
Jambu biji (Psidium guajava L.)
Kingdom :
Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan
berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping
dua / dikotil)
Sub Kelas :
Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae (suku
jambu-jambuan)
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava L.
Dari hasil praktikum diketahui bahwa penggunaan media cangkok dengan
pupuk kompos yang didibalut dengan menggunakan plastik berwarna transparan memberikan hasil yang baik, hal ini karena
pada cangkokan ini diperlakukan baik dengan menyiram media cangkokan tersebut
setiap harinya serta pada prinsipnya pupuk kaompos dapat menyimpan air cukup
lama sehingga persediaan air untuk merangsang pembentukan akar pada cangkokan
akan terus terjaga. Pembalutan dengan plastik membuat temperature cangkokan
menjadi sesuai dan kelembapannya seimbang. Sehingga teknik ini membuktikan
bahwa pencakokan yang baik dapat
menggunakan media pupuk kkandang yang dibalut dengan menggunakan plastic
berwarna hitam.
Dalam mencangkok juga diperlukan perawatan yang hati-hati karena tanaman
hasil cangkokan kebanyakan perakarannya menjadi lemah. Mengapa demikian, karena
tanaman hasil cangkokan tersebut memiliki akar serabut sehingga tanaman akan
mudah roboh. Adapun kegagalan dalam pencakokan dikarenakan oleh beberapa hal
diantaranya seperti kurang bersihnya pengkeratan pada batang yang menyebabkan
cambium masih tersisa.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5. 1 Kesimpulan
Dari kegiatan praktikum yang di lakukan dapat ditarik
beberapa kesimpulan antara lain :
1) Mencangkok
adalah suatu teknik perbanyakan tanaman dengan cara merangsang timbulnya
perakaran pada cabang pohon sehingga dapat ditanam sebagai tanaman baru
mencangkok merupakan salah satu upaya pembiakan tanaman.
2) Penutup
yang digunakan dalam pencangkokkan ini juga berpengaruh pada tumbuhnya akar
pada cangkokkan. Penutup yang berasal dari serabut lebih efektif daripada
penutup dari plastik karena serabut lebih mudah menahan air yang disiramkan
pada cangkokkan sehingga mudah merangsang akar untuk tumbuh.
3) Perlakuan
dengan mengurangi daun berpengaruh terhadap keberhasilan tanaman karena jika
daun tidak dikurangi maka penguapan tanaman akan tinggi dan kemungkinan untuk
mendapat hasil yang optimal sangatlah rendah.
4) Pertumbuhan
akar cangkokan dapat secara maksimum apabila kondisi media pembalut, bahan
pembungkus sesuai dan mendukung untuk melakukan pertumbuhan
5) Kegagalan dalam pencangkokan disebabkan oleh
berbagai hal diantaranya adalah kurang bersihnya dalam pembersihan cambium pada
batang akan dicangkok, alat penyayatan kuarng steril serta tidak adanya
perawatan seperti penyiraman pada cangkokan.
5. 2 Saran
Sebaiknya selalu diperhatikan kekompakan setiap
anggota kelompok dan ketelitian dalam percobaan agar mendapatkan hasil yang
maksimal.
Dalam praktikum ini hendaknya lebih mempersiapkan tanaman yang benar –
benar memenuhi Kriteria tanaman untuk dapat dicangkok. Disamping itu dalam
proses pencangkokan harus lebih rajin dalam penjagaan kelembapan media cangkok
agar mendapatkan hasil cangkokan yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S. 1995. Holtikultura.
UI-PRESS, Jakarta.
Danu
dan J. Tampubolon, 2002. Pengaruh Jumlah Mata Ruas Stek dan Konsentrasi
Herawan,
T., 2003. Propagasi Klon Acacia mangium Melalui Kultur Jaringan. Jurnal
IBATerhadap Pertumbuhan Stek Batang
Gmelina arborea LINN. Balai
Kusbiantoro, b. 1993. Teknik
perbanyakan vegetatif, mencangkok. Agro jurnal(2): 9
Kusumo,S,2001.
Zat Pengatur Tum buh Tanaman. Penerbit CV. Yasaguna. Jakarta.
Wahid. 2000. Media bahan
perkembangan vegetatif. Agro jurnal : 4-5
Wahyuni, sri. 1998. Pengembangan
vegetatif mencangkok. Agro jurnal : 59
Wilkins. 1991. Fisiologi lingkungan
tanaman. Yogyakarta : gajah mada press.
Adinugraha, Hamdan
Adma. 2007. “Teknik Perbanyakan Vegetatif Jenis Tanaman Acacia mangium”. Info Teknis
5 (2).
Ashari, S. 1995. Holtikultura. UI-PRESS, Jakarta.
Kusumo,S.2001. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Penerbit
CV. Yasaguna. Jakarta.
Putri, Kurniawati P. , D,
Dharmawati F. , dan Suartana, M. 2007. Pengaruh
Media dan Hormon Tumbuh Akar Terhadap
Keberhasilan Cangkok Ulin. Jurnal.
PenelitianHutan Tanaman 4 (2):069 – 118.
Salisbury &
Cleon, R. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Penerbit ITB, Bandung.
Perendaman Terhadap Pertumbuhan Setek Pucuk Jambu
Air”. Jurnal Hortikultura 7 (4).
Tjitrosoepomo, Gembong, 1985, Morfologi Tumbuhan, 32-235, Gajah Mada
University
Press, Yogyakarta.
Wudianto,
R. 1999. Membuat Setek, Cangkok dan
Okulasi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Lampiran
|
Gambar
02: Hasil Tanaman cacao
|
|
Gambar
01: Proses pengikatan tanaman Cacao
|
|
Gambar
03Tanaman Puring Mini
|
|
Gambar
04: Tanaman Puring Mini
|
|
Gambar
05: Tanaman Jambu Biji
|
|
Gambar
06: Tanaman
Jambu Biji
|